Bookmark and Share

Public Junior High School 2 Gresik

SMP Negeri 2 Gresik Menuju Bilingual School More »

Spendagres

Spendagres is the best!!! More »

SMP Negeri 2 Gresik

Creative - Innovative - Competitive School More »

Welcome to smpnegeri2gresik.com

Portal Resmi SMP Negeri 2 Gresik More »

Berprestasi di Tingkat Nasional

Juara 1 LPIR SMP Tingkat Nasional Tahun 2013 di Bidang Sosial dan Juara 3 LPIR SMP Tingkat Nasional Tahun 2013 di Bidang Teknologi More »

Spendagres dan Prestasi

Prestasi Tenaga Pendidik Spendagres tahun 2013 More »

Student Achievements

Prestasi Siswa di tahun 2014 sangat membanggakan SMP Negeri 2 Gresik More »

 

KISI-KISI UJIAN NASIONAL TINGKAT SMP/MTS TAHUN 2015

UN SMP 2015

DOWNLOAD

Senangnya Jadi Guru Dambaan Siswa

guru favoritGuru adalah orang yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan. Ia adalah cahaya yang menerangi kehidupan manusia dan menjadi musuh kebodohan. Guru bagai nakhoda piawai yang mampu menyetir kemudi kapal dan menghantarkan semua penumpang ke pulau yang mereka dambahkan. Guru bak lilin yang menerangi lorong gelap menjadi terang benderang.
Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Di sekolah guru merupakan unsur yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan selain unsur murid dan fasilitas lainnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan kesiapan guru dalam mempersiapkan siswanya melalui kegiatan belajar mengajar. Namun demikian posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional guru dan mutu kinerjanya. Guru menjadi ujung tombak pendidikan sebab secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan siswa, sebagai ujung tombak, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik, pembimbing dan pengajar dan kemampuan tersebut tercermin pada kompetensi guru. Berkualitas tidaknya proses pendidikan sangat tergantung pada kreativitas dan inovasi yang dimiliki guru. Gunawan (1996) mengemukakan bahwa Guru merupakan perencana, pelaksana sekaligus sebagai evaluator pembelajaran di kelas, maka siswa merupakan subjek yang terlibat langsung dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Dalam meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu pendidikan yang baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru. Menurut Pidarta (1999) bahwa setiap guru adalah merupakan pribadi yang berkembang. Bila perkembangan ini dilayani, sudah tentu dapat lebih terarah dan mempercepat laju perkembangan itu sendiri, yang pada akhirnya memberikan kepuasan kepada guru-guru dalam bekerja di sekolah sehingga sebagai pekerja, guru harus berkemampuan yang meliputi unjuk kerja, penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya. Kehadiran guru dalam proses pembelajaran di sekolah tetap memegang peranan yang penting. Peran tersebut belum dapat diganti dan diambil alih oleh apapun. Hal ini disebabkan karena masih banyak unsur-unsur manusiawi yang tidak dapat diganti oleh unsur lain. Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. (Wijaya dan Rusyan, 1994). Dari uraian di atas jelas bahwa betapa beratnya tugas guru untuk mengemban amanat mengawal dan mengantarkan pendidikan para penerus bangsa ini. Oleh karena itu kehadiran guru sangat penting bagi siswa dalam proses peralihan ilmu. Peralihan ilmu apapun akan tergantung kepada banyak hal. Suasana batin dan emosional orang tua, guru, dan siswa sendiri. Orang tua seratus persen ikhlas mengantarkan anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik sampai jenjang apapun. Seakan guru sebagai wakil orang tua seharusnya suasana kebatinannya sama ikhlas mentranfer ilmu tanpa ada perasaan bukan anak sendiri atau terpengaruh oleh emosional yang lain. Siswa pun demikian, harus dapat menerima kehadiran guru sebagai sosok yang dapat mewakili orang tua dan mengalirkan ilmunya. Tetapi tidak demikian kadang ketiganya tidak sesuai harapan. Contoh kecil saja, tidak semua siswa menyukai sosok guru tertentu dengan berbagai alasan. Alangka indahnya guru yang kehadirnya dinantikan dan ketidakhadirannya menjadi kerinduan. Kehadiran guru menjadikan semangat siswa meningkat. Keceriaan, gelak tawa, keseriusan, dan suasana kompetisi terasa. Lalu bagaimana agar guru selalu dinanti dan didambahkan oleh siswanya? Pertama, kenali diri dan keluarga siswa. Guru diharapkan mengenali diri siswa kelebihan dan kekurangnnya serta implikasi dari perilaku siswa di ruang kelas saat pembelajaran dan di luar kelas saat berinteraksi dengan masyarakat. Mengenali siswa yang paling kecil adalah mengetahui nama. Siswa akan merasa nyaman dan bangga bila namanya dipanggil. Apalagi panggilan dengan nada lembut dan tulus. Nama panggilan siswa misal nama lengkapnya Muhammad Abidin, guru memanggil ”Bidin” sesuai dengan panggilan sehari-harinya. Nama Salsabila, dipanggil ”Bila”. Siswa akan merasa nyaman dan bangga. Dengan memanggil nama secara halus, akan membuat suasana kebatinan akan lebih baik. Maka terjalin suasana kebatinan yang akan membuka hati keduanya menjadikan pembelajaran semakin muda mengalir dengan nayaman dan tulus. Sebaliknya jangan sekali-kali memanggil dengan nama yang jelek karena akan menjatuhkan mental siswa di hadapan teman-temannya. Kedua, mengahargai martabat dan pribadi siswa. Penghargaan dan pribadi peserta didik dilakukan dengan banyak cara. Memanggil nama dengan benar, memberikan pujian atas yang dilakukan baik itu benar maupun salah, menanyakan bagaimana keadaan diri dan keluarga.
Ketiga, memosisikan diri sebagai orang tua. Fungsi guru akan merasa lengkap bila dapat memosisikan diri sebagai orang tua juga di sekolah. Orang tua yang sudah memberikan kasih sayang di sekolah dengan tulus, dilanjutkan pula di sekolah oleh guru. Peran menjadi orang tua terasa tidak berlebihan karena fungsi guru tidak hanya mengajar (intraksional), mengatur (managerial), evaluasi (evalue), tetapi guru juga mendidik (edukasi). Keempat, memposisikan sebagai teman. Guru juga bisa sebagai teman. Kedudukan guru tidak hanya dibatasi oleh status karena guru tetapi akan lebih terasa familier atau rasa kekeluargaan. Posisi sebagai teman ini akan melepas dan membuka batas dan sekat dari formalitas menjadi seperti teman. Dengan demikian rahasia dan masalah pribadi dan keluhan emosional apapun dapat disampaikan (curhat) kepada guru. Kelima, berikan cinta yang tulus. Cinta adalah sikap batin yang akan melahirkan kelembutan, kesabaran, kelapangan, kreativitas, serta tawakal. Hampir semua guru berkeinginan untuk bisa mencitai siswanya. Harapannya, siswa juga dapat mencintai dirinya. Inilah fitrah sesungguhnya. Namun kenyataannya, tidak semua guru berhasil melakukan hal ini. Bahkan ada guru yang merasa tidak pernah berhsil mencintai siswanya, meski berbagai usaha dilakukan. Akhirnya, respon cinta dari para siswa yang diharapkan dan ditunggu-tunggu tak kunjung muncul juga. Niat guru untuk mendidik siswa dengan cinta kasih, tanpa harus membentak, mencubit, atau berteriak keras, tidak kesampaian. Guru sangat sering mengalami kejadian yang mengesalkan. Di saat mati-matian menata kelas supaya tenang, satu atau dua siswa merusak usasana dengan bicara sendiri, ramai dan bertengkar. Akhirnya dengan cepat kesadaran guru untuk sabar dan penuh cainta kasih hilang. Emosional tiba-tiba muncul dengan kata-kata kasar dan bernada tinggi. ”Diam..!”, ”Hentikan..!” ”Duduk..!” ”dan ada kata-kata bernada ancaman. ”Awas!” Ada dua kemungkinan yang menyebabkan kegagagalan guru untuk mewujudkan makna cintanya ke siswa, pertama, guru tidak mampu membahasakan cintanya, sehingga sinyal-sinyal cinta itu tidak tertangkap oleh siswa. Kedua, guru tidak menyiapkan hatinya dengan baik sehingga tidak sabar ingin melihat respon cinta dari siswa. Lebih parah lagi jika belum tumbuhnya cinta di dalam hati guru. Oleh karena itu guru harus selalu sabar dan menunjukkan kelembutan kepad siswa dengan ikhlas. Hal ini sesuai diajarkan dalam Al-Qur’an berikut: ”Maka berkat rahmat Alloh engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. (Q.S. Ali’Imron (3 :159). Murze cendekiawan pendidikan berpendapat bahwa guru yang dicintai seorang guru yang memiliki sifat ramah dalam berinteraksi kepada sesama, memahami orang lain, menghormati tanggung jawab, disiplin dalam sikap dan tugas-tugasnya, dan mampu berinisiatif dan onovatif. Lebih lanjut Robert Rowen hasil riset yang dilakukan, ia berendapat bahwa guru yang dicintai harus melakukan hal-hal sebagai berikut: menjadikan pengajaran sebagai sesuatu yang dirindukan, menguasai denbgan baik materi pelajaran yang menjadi spesifikasinya, mampu berbicara dengan semangat dan penuh antusiasme, mampu menyusun materi ilmiah, memotivasi dan mensupport murid-muridnya, memiliki jiwa humoris, perhatian kepada murid-muridnya, kata-katanya mampu memberikan kenyamanan dalam jiwa, bersih dan rapi dalam berpakaian.
Keenam, berikan penghargaan (reward) dan pujian. Pujian guru kepada siswa hendaknya diberikan setiap saat. Pujian (praise) didefinisikan dalam Webster’s (2000) sebagai”tindakan mengungkapkan persetujuan atau kekaguman”. Guru perlu memberi pujian untuk menumbuhkan rasa siswa tentang”harga diri, otonomi, kemadirian, prestasi dan minat untuk belajar”. Pujian sering diberikan pada akhir tugas untuk pekerjaan yang dianggap ”baik dilakukan (Hitz). Pujian adalah strategi yang bertujuan untuk mendorong para siswa untuk memantau makna dan mengoreksi diri. Pujian yang bisa mengena langsung ke siswa adalah dengan kata-kata. Seperti, ”Kamu hebat, bagus, oke, benar, pertahankan, terus semangat, dan kata lainnya”. Ketujuh, hindari hukuman (punishment), berikan penghargaa (reward). Hukuman (punishment) menurut Burrhud Frederic Skinner, terjasinya ketika suatu respons menghilangkan sesuatu yang positif dari situasi atau menambahkan sesuatu yang negatif. Dalam bahsa seheari-hari kita dapat mengatakan bahwa hukuman adalah mencegah pemberian sesuatu yang diharapkan organisme, atau memberi organisme sesuati yang tidak diinginkan. Walaupun hukuman bisa menekan sesuatu respons selama hukuman diterapkan, namun hukuman tidak akan melamahkan kebiasaan. Skinner (1971) mengatakan, Hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tidak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkurang kemungkinan mengulani perilaku yang sama. Sayangnya, persoalannya tidak sederhana itu. Pengharagaan (reward) adalah bentuk apresiasi kepada suatu prestasi tertentu yang diberikan, baik oleh dan dari perorangan ataupun suatu lembaga yanag biasanya dalam bentuk materi atau ucapan. Fungsi penghargaan adalah, memperkuat motivasi untuk memacu diri agar mencapai prestasi, memberi tanda bagi seseorang yang memiliki kemampuan lebih. Kedelapan, hadirkan siswa dalam do’a. Guru juga sebagai ”orang tua kedua” bagi anak. Maka, hendaklanya guru memang berusaha untuk mewujudkan harapan siswanya saat berdoa. Kehadiran siswa selalu terlintas dan menjadi bagian dari isi do’a yang disampaikan kepada Allah SWT waktu salat fardu dan salat malam (qiyamullail). Memohonlah kepada Alloh SWT agar memberikan kemudahan dan kejelasan atas ilmu yang disampaikan ke siswa. Juga semoga Allah SWT melimpahkan kebenaran di atas lisan dan hati Bapak dan Ibu guru. Serta dilancarkan ucapan sehingga siswa mudah memahami. Amin. Bila semua itu dilakukan oleh guru dengan ihklas dan profesional maka tidak mustahil para siswa mendabahkan kehadirannya. Alangkah senangnya bila guru itu keberadaannya dinantikan oleh para siswanya. Guru yang demikian menjadi idola di sekolah. Sapaan-sapaan, dan panggilan dari berbagai arah menyebut nama guru idola tersebut. Sampai para siswa sudah lulus pun terus silaturrahmi dan menjalin hubungan yang baik. Kenangan dan kebaikan guru idola selalu diingat dan menjadi memori yang tidak pernah terlupakan.

dion Written :

Mahmudiono, M.Pd. (Indonesian Teacher, mahmud72_bila@yahoo.com)

KISI-KISI UJIAN SEKOLAH TINGKAT SMP TAHUN 2015

Kisi-Kisi Ujian Sekolah Tingkat SMP Tahun 2015 :

1. Pendidikan Agama Islam

2. Ilmu Pengetahuan Alam

3. Bahasa Indonesia

4. Ilmu Pengetahuan Sosial

5. Matematika

6. Seni Budaya

7. Bahasa Inggris

8. Pendidikan Kewarganegaraan

Pembinaan dari Tim Adiwiyata Kab. Gresik

Untuk menuju sekolah Adiwiyata, beberapa waktu yang lalu Tim Adiwiyata dikunjungi oleh Tim Adiwiyata Kabupaten Gresik bersama dengan Sekolah Pembina (SMP Manbaul Ulum Gresik)

DSC04837

DSC04839

 

SMP Negeri 2 Gresik Menuju Sekolah Adiwiyata

logo adiwiyataBismillahirrahmanirrahiim

Allah berfirman dalam Kitab Suci-Nya Al Qur’an Surat Al Qashash ayat ke-77, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” Dalam ayat di atas, Allah membenci umat-Nya untuk berbuat kerusakan. Ini berarti Allah mencintai keindahan. Namun demikian kesadaran bangsa kita mencintai lingkungan memprihatinkan. Bangsa kita sepertinya telah didoktrin oleh paham disposibleism, sudah tidak bisa mengelola sampah malah suka membuat sampah.

Untuk itu, SMP Negeri 2 Gresik tergerak melihat keprihatinan ini dengan melakukan Rencana Aksi Lingkungan. Rencana aksi lingkungan ini dimaksudkan dapat mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah untuk mencintai lingkungan yang implementasinya berupa pelestarian lingkungan hidup.
go green schoolTak ada gading yang tak retak. Kami sadar bahwa Rencana Aksi Lingkungan yang telah tersusun ini mungkin terdapat kekurangan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari semua pihak sangat dibutuhkan. Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu (Al Kahfi:45).

SMP Negeri 2 Gresik memiliki tanah seluas 2.900 m2, 2.500 m2 dipakai untuk bangunan sehingga tersisa hanya sekitar : 400 m2 yang masih berupa lahan kosong yang hanya dipakai untuk lapangan bermain dan taman. Namun demikian separuh lebih yang telah dimanfaatkan untuk bangunan sekolah tertata relatif baik dimana pengadaan penghijauan sekolah terawat dengan baik dan tampak di bagian taman tengah. Kesadaran warga sekolah akan peduli dan cinta terhadap lingkungan belum merata. Ini dibuktikan beberapa program sekolah, salah satunya adalah conducive environment (menciptakan lingkungan yang kondusif termasuk upaya pelestarian fungsi lingkungan serta mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan untuk mendukung pembelajaran yang berkualitas) sebagai program unggulan SMP Negeri 2 Gresik belum dapat dukungan sepenuhnya.

Disisi lain, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah sangat terbatas dan boleh dikatakan darurat. Bahkan sering terjadi konflik dalam hal pengumpulan dan pembuangan. Sekarang dengan kepedulian sekolah terhadap sampah, sekolah membangun TPA sederhana untuk pemilahan sampah organik dan anorganik sekaligus penyuluhan tentang pengolahan sampah secara sederhana. Menumbuhkan kesadaran masyarakat sekitar akan sampah tentu membutuhkan waktu yang cukup lama karena mayoritas warga sekitar sekolah belum terbiasa mengelola sampah.
Untuk mewujudkan kondisi ini, sekolah berusaha memberikan penyuluhan dan sekaligus memfasilitasi pengolahan sampah yang sementara ini masih berupa penyediaan Bank Sampah untuk warga sekolah khususnya para siswa yang tergabung dalam pelopor Adiwiyata sekolah.

Letak SMP Negeri 2 Gresik berada di dekat pelabuhan Gresik atau 150 meter dengan Polres Gresik yang masuk dalam wilayah Kelurahan Kebungson. Sekolah ini dikelilingi oleh pemukiman penduduk dari etnis berbeda. Ada Jawa, Arab, dan Madura. Kondisi sekolah sangat berdekatan bahkan berdempetan dengan tanah PJAK yang lama tidak dipergunakan. Masyarakat yang heterogen ini lokasi yang berdekatan dengan pemukiman penduduk dimungkinkan banyak mengalami suatu permasalahan berkaitan dengan lingkungan sekolah. Masyarakat di daerah sekitar sekolah masyarakatnya boleh dikatakan berifikir secara individu. Hal ini dikarenakan pola pikir sudah mengarah kepada bisnis dan bisnis.

Siswa-siswa SMP Negeri 2 Gresik berasal dari SD dan MI sekitar dan hanya sebagian kecil saja dari luar kota/daerah bahkan luar pulau seperti Sulawesi dan Madura.
Kondisi ekonomi orang tua sebagian besar adalah menengah ke bawah, hanya beberapa gelintir saja dari kalangan ekonomi menegah ke atas. Ini disebabkan image para orang tua sejak awal berdirinya SMP Negeri 2 Gresik merupakan sekolah murah bahkan gratis. Dan image ini masih tertangkap hingga sekarang. Jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah lain di kota Gresik dengan jenjang akreditasi yang sama yaitu A, SMP Negeri 2 Gresik tergolong paling murah meskipun sarana prasarananya tidak kalah dengan sekolah-sekolah lain.

SMP Negeri 2 Gresik menerapkan pendekatan pembelajaran yang memihak kepada siswa sebagai pembelajaran sentral. Diharapkan, pendekatan ini mampu membawa pada kondisi pembelajaran dimana siswa mengalami apa yang mereka pelajari, bukan mengetahuinya. Di samping itu, sesuai dengan KTSP (Dokumen 1 ) bahwa di SMP Negeri 2 Gresik memberikan pembelajaran lingkungan hidup yang terintegrasi dengan semua mata pelajaran sedangkan Pendidikan Lingkungan Praktis (PLP) dijadikan sebagai muatan lokal oleh SMP Negeri 2 Gresik. Pembelajaran Lingkungan Praktis lebih menekankan pada pembelajaran yang bersifat praktik. Dengan demikian, pembelajaran tidak akan berorientasi pada target penguasaan materi belaka, yang sebenarnya merupakan pembelajaran jangka pendek, tetapi gagal memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Untuk memberikan pendidikan yang bermakna, SMP Negeri 2 Gresik sengaja mengangkat dua nilai dari kedelapan belas nilai-nilai karakter, yaitu nilai mencintai lingkungan dan disiplin sebagai nilai karakter utama. Kedua nilai karakter itu dirancang kedalam tiga ranah atau bidang, yaitu bidang manajemen, kurikulum dan kesiswaan. Dibidang manejemen kebijakan terkait nilai kedua karakter itu dibuat sebagai payung hukum dan dan sekaligus diprogram dan dianggarkan yang tertera pada Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah dan di bidang kurikulum kedua nilai karakter itu diintegrasikan kedalam semua mata pelajaran, baik secara monolotik maupun integratif. Sementara itu, di bidang kesiswaan kedua nilai karakter tersebut diimplementasikan melalui pengembangan diri termasuk kegiatan ekstrakurikuler.
Untuk mendukung pembelajaran yang berkualitas, SMP Negeri 2 Gresik menerapkan Tiga Prinsip Pembelajaran KH Dewantoro sebagaimana di bawah ini;
1. Prinsip Tri-Ngo, yaitu ngerti, ngroso dan nglakoni. Setiap bentuk pembelajaran diupayakan menyentuk ketiga aspek itu.
2. Prinsip Teori Opor Bebek, yaitu prinsip dimana pembelajaran diupayakan dapat memunculkan sikap kemandirian sebagaimana sifat opor bebek itu sendiri yang mampu mengeluarkan minyak sendiri ketika digoreng. Jadi keberadaan guru hanya sebagai fasilitator dan motivator yang dapat merangsang siswa untuk mau belajar.
3. Prinsip Belajar di Kelas Berdinding Tiga, yaitu prinsip pembelajaran yang menghubungkan materi pembelajaran di sekolah dengan kehidupan siswa di rumah atau masyarakat. Jadi, dengan prinsip ini ilmu juga penting diketahui oleh siswa tapi jauh lebih penting jika siswa mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari harinya.

Secara umum bangunan sekolah dalam kondisi baik dan jumlah ruang kelas untuk menunjang kegiatan belajar sangat memadai.

A. Kekuatan dan Peluang SMP Negeri 2 Gresik

Beberapa kekuatan dan peluang yang dimiliki oleh SMP Negeri 2 Gresik dalam melakukan Kajian dan Rencana Aksi Lingkungan. Salah satu kekuatan yang dimiliki adalah pelaksanaan Program Bilingual School dan Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang dijadikan Icon dalam mengkampanyekan isu lingkungan di sela-sela penampilannya. Program Bilingual School dan Karya Ilmiah Remaja (KIR) dipilih sebagai icon mengkampanyekan isu lingkungan. Program ini telah menghasilkan lulusan yang mempunyai daya saing tinggi di tingkat SMA Negeri di Kota Gresik. Kecakapan dalam berbicara Inggris (conversation) menjadi target dari sekolah yang berada di depan makam Nyai Ageng Pinatih ibunda asuh Sunan Giri.
Begitu pula dalam bidang Karya Ilmiah Remaja (KIR) yang menjadi kekuatan telah mengharumkan nama baik SMP Negeri 2 Gresik di tingkat Kabupaten maupun Nasional. Kelompok Ilmiah Remaja yang masuk dalam ekstra kurikuler dilaksanakan setiap minggu sekali. Medali Emas bukti prestasi atau menjadi kekuatan sekolah ini. Kebiasaan menggunakan password untuk masuk kelas adalah kebiasaan yang positif. Kebiasaan itulah yang mengilhami tim peneliti menulisnya menjadi karya ilmiah.
Dari kondisi lingkungan sekolah, siswa, orang tua, dan sarana prasarana yang ada di SMP Negeri 2 Gresik, sekolah ini memiliki kekuatan dan juga peluang yang cukup potensial.
Peluang pertama, SMP Negeri 2 Gresik memiliki sumber daya manusia (SDM) yang cukup bagus untuk mengembangkan pembelajaran secara inovatif, kreatif dan menyenangkan sehingga output serta outcome yang dihasilkan bisa terus meningkat untuk menjadi lebih baik. SMP Negeri 2 Gresik pada tahun pelajaran 2014-2015 memiliki siswa sebanyak 734 yang terbagi dalam 24 rombongan belajar. Didukung dengan adanya tenaga pendidik sebanyak 42 orang dengan 32 pendidik berkualifikasi S1 dan 10 orang pendidik berkualifikasi S2. Pendidik yang ada di SMP Negeri 2 Gresik 90% sudah ada pada tingkatan mahir untuk menggunakan IT sebagai sumber dan media dalam pembelajaran. Kegiatan-kegiatan MGMP tingkat kabupaten maupun MGMP tingkat sekolah yang selama ini aktif diikuti para pendidik semakin memberikan tambahan pengetahuan dan wawasan pendidik untuk mengembangkan proses pembelajaran. Untuk pendidik yang mengampu mata pelajaran yang diujinasionalkan juga aktif mengikuti kegiatan MGMP bermutu yang merupakan program dari pemerintah pusat melalui LPMP Jatim dengan bantuan pendanaan dari Bank Dunia. Melaui kegiatan ini pendidik tidak hanya diarahkan mampu mengembangkan pembelajaran, tetapi juga diarahkan dan didampingi untuk melaksanakan kegiatan pengembangan profesi, kegiatan tersebut diantarannya adalah menulis kajian kritis, menulis artikel ilmiah dan juga melakukan penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu pendidik dan juga tenaga kependidikan yang ada di SMP Negeri 2 Gresik memiliki potensi yang cukup bagus dan hal ini merupakan kekuatan yang tinggi bagi SMP Negeri 2 Gresik.
Sarana dan prasarana penunjang proses pembelajaran yang dimiliki SMP Negeri 2 Gresik cukup memadai, sekolah ini dilengkapi dengan 24 ruang kelas, 1 ruang laboratorium IPA, 1 ruang laboratorium Bahasa, 1 ruang perpustakaan, ruang BK, ruang UKS, serta dilengkapi dengan koperasi dan 4 kantin sekolah.
Dukungan dan partisipasi masyarakat khususnya para wali murid yang ada di sekolah ini sangat bagus. Hal ini terbukti ada beberapa program sekolah khususnya kegiatan-kegiatan yang merupakan kebutuhan personal siswa didanai sepenuhnya oleh wali murid melalui kesepakatan dalam musyawarah wali murid dengan pihak sekolah dan dibantu pengurus komite sekolah. Program kegiatan tersebut antara lain adalah bimbingan belajar kelas IX, kegiatan ekstrakurikuler Bahasa Inggris yang membiasakan siswa untuk menggunakan Bahasa Inggris sederhana dalam komunikasi.
Bentuk nyata sebagai upaya mengimplementasikan kecintaan terhadap lingkungan juga telah lama terprogram, misalnya kebijakan dengan menjadikan pembelajaran lingkungan sebanyak 2 jam (di SMP Negeri 2 Gresik mata pelajaran ini disebut Pendidikan Lingkungan Praktis) yang dimulai pada tahun pelajaran 2010. Desain awal Pendidikan Lingkungan Praktis dimaksudkan untuk menumbuhkan semangat belajar melalui dari hal yang paling sederhana yaitu berkaitan dengan lingkungan. Untuk Kelas VII pembelajaran difokuskan pada jenis-jenis bunga. Sedang Kelas VIII fokus pada tanaman bungaTanaman Toga dan Kelas IX fokus pada seni banggol bunga Adenium dan ekorbiak. Kibijakan ini tentu saja adalah kekuatan SMP Negeri 2 Gresik dalam melaksanakan Kajian dan Rencana Aksi Lingkungan.
Kekuatan lain juga tampak pada kebijakan SMP Negeri 2 Gresik untuk memberikan kegiatan bersih lingkungan 1 jam pelajaran sejak tahun pelajaran yang sama ketika kebijakan mata pelajaran PLP (Pendidikan Lingkungan Praktis) diberlakukan sebagai Muatan Lokal. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menamkan nilai tanggung jawab kepada siswa terhadap kebersihan lingkungan sekolah bahwa kebersihan lingkungan sekolah bukan hanya pada petugas kebersihan sekolah melainkan tugas bersama. Kekuatan-kekuatan sebagaimana diuraikan di atas menjadi energi bagi seluruh warga SMP Negeri 2 Gresik dalam melaksanakan Kajian dan Rencana Aksi Lingkungan.

B. Beberapa Permasalahan Lingkungan

Gresik sebagai kota industri dengan jumlah sekitar 366 perusahaan dari skala sedang sampai besar disamping sebagai kota wali dengan dimakamkanya 2 Sunan yaitu Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim dan banyak lagi Sunan dan Para Ulama yang dimakamkan di bumi kota santri ini, membawa dampak tersendiri terhadap lingkungan sekitar. Dengan posisi itu, praktis banyak pendatang berduyun-duyun ke Gresik, mulai dari ziarah kubur sampai singgah sementara atau menetap. Pada akhir 2011 jumlah penduduk Kabupaten Gresik 1.248.177 jiwa yang terdiri dari 628.702 laki-laki dan 619.457 perempuan (menurut data dari situs resmi Pemerintah Kab. Gresik, “www.gresikkab.go.id”). Ditambah lagi letak geografis Gresik yang berada di daerah pesisir Pantai Utara.
SMP Negeri 2 Gresik berada di Kelurahan Kebungson dan posisi sekolahnya di depan atau berhadapan dengan makam Nyai Ageng Pinatih Ibunda Asuh Kanjeng SUnan Giri sehingga bila ada peziarah keadaan lalu lintas menjadi macet. Hal ini kondisi jalan dengan pagar pembatas sekolah sangat dekat dan sempit. Apalagi bila usai pelajaran, para siswa keluar halaman menuju kea jalan antri mobil angkot, jemputan, dan sekedar main di jalan membuat semakin macet. Kondisi ini juga membuat sampah berserakan, baik di area lapangan maupun di jalanan.
Kondisi ini tentu saja memicu permasalahan lingkungan yang cukup komplek seperti masalah sampah, air, energy, keanekaragaman hayati, ruang terbuka hijau, pengelolaan sumber daya air dan seterusnya. Dibawah ini akan diuraikan permasalahan-permasalahan yang kerap terjadi di lingkungan SMP Negeri 2 Gresik dan sekitarnya.
1. Masalah Sampah
Masalah ini merupakan masalah utama permasalahan lingkungan di SMP Negeri 2 Gresik karena kesadaran para siswa dalam memahami tentang sampah kurang begitu pula pada sebagian guru. Sampah di SMP Negeri 2 Gresik banyak di temukan di sepanjang sudut lingkungan sekolah. Di Kantin contohnya, tempat siswa membeli makanan, jajanan, dan minuman. Mereka makan di kantin dengan membuang plastik pembungkus makanan seenaknya. Sampahnya terdiri dari berbagai macam jenis sampah mulai sampah organik, anorganik dan barang beracun dan berbahaya (B3), seperti plastik kemasan minuman dan makanan, daun, sisa sayur-sayuran, buah-buahan busuk, , pempes, pembalut wanita, kaleng, botol, dan barang pecah belah lainnya, bahkan sampai serpihan bangunan rumah dan masih banyak lagi yang lainnya.
Dari sekian jenis sampah yang mendominasi di Tempat Pembuangan Akhir di lahan SMP Negeri 2 Gresik adalah sampah platik (tas platik, kemasan snack plastik, kemasan air mineral) dan pempes atau pembalut wanita. Sementara itu, sampah dari sekolah terdiri dari daun-daun dan platik (kemasan makanan kecil, kemasan air mineral). Jika dihitung dalam setiap 2 hari terkumpul sampah dari sekolah sebanyak 0,48m3.
Di sisi lain kesadaran siswa-siswa SMP Negeri 2 Gresik untuk membuang sampah di tempatnya masih relatif kecil. Padahal upaya menjaga kebersihan lingkungan sekolah dengan cara menyediakan tempat sampah secara terpisah telah disediakan (ada 2 jenis tempat sampah; sampah organik dan sampah non organik. 1 unit untuk 2 kelas dan disediakan beberapa bak sampah ukuran besar untuk menampun sampah dari kelas sebelum dibuang ke TPA) disamping 4 buah komposter untuk sampah daun. Ternyata sejujurnya merubah perilaku ini tidak mudah.

2. Masalah Air
Sebagian warga sekitar menggunakan air PDAM untuk memenuhi kebutuhan hidupnya namun dalam kenyataanya air PDAM tidak seperti yang diharapkan, tidak begitu lancar. Dihadapkan pada kondisi ini, banyak warga yang menggunakan air sumur. Meskipun air sumur di sekitar SMP Negeri 2 Gresik mengandung zat kapur, akan tetapi warga tetap memanfaatkannya. Sebelum adanya PDAM, warga sekitar memanfaatkan air hujan untuk keperluan sehari-hari. Sekarang sebagian besar mereka tidak lagi memanfaatkan air hujan. Jadi, air hujan dibiarkan terbuang ke laut.
Sama seperti warga sekitar, kebutuhan sekolah tentang air juga memanfaatkan air sumur, terdapat 2 sumur di lahan SMP Negeri 2 Gresik dan sampai sekarang masih tetap dimanfaatkan. Namun untuk mengantisipasi jika terjadi kerusakan mesin pompa air, sekolah telah menginstal air PDAM dan keduanya dimanfaatkan. Air sumur dipakai untuk keperluan wudlu dan toilet guru dan siswa disamping untuk menyirami tanaman sekolah dan air PDAM selama ini sebatas dimanfaatkan untuk menyiram taman sekolah.
Limbah air di SMP Negeri 2 Gresik selaman ini masih belum dimanfaatkan secara optimal, terutama limbah air dari toilet dan kantin sekolah, yang sudah dimanfaatkan hanya limbah air wudlu Mushollah SMP Negeri 2 Gresik yang telah dimanfaatkan untuk kebutuhan taman di sekitar mushollah. Sementara air dari toilet langsung masuk ke penampung penyerapan di dalam tanah.
3. Masalah Energi
Energi utama untuk kebutuhan rumah tangga dan perkantoran di wilayah sekitar SMP Negeri 2 Gresik menggunakan energi listrik dari PLN. Demikian juga kebutuhan utama listrik di SMP Negeri 2 Gresik menggunakan menggunakan PLN. Yang menjadi masalah terkait energi adalah kesadaran untuk hemat energi. Hal ini dapat dibuktikan masih banyak lampu-lampu di rumah warga sekitar sekolah masih menggunakan lampu neon tabung atau bahkan lampu pijar. Padahal jenis model lain bebrbagai merek seperti model spiral bisa menghemat hingga 80%.
4. Masalah Keanekaragaman Hayati
Fenomena yang menunjukan bahwa masyarakat kita lebih memahami nama fungsi obat-obatan kimia dari pada obat alami (herbal) tidak diragunakan lagi. Betapa kita mengetahui merek-merek obat kimia untuk sakit batuk dari pada jahe, lebih suka minum obat kimia untuk sakit tenggorakan dari pada minum kencur dan seterusnya. Doktrin begitu mengakar hingga generasi muda pun terpengaruh. Tidak hanya itu, obat-obatan yang disediakan di Unit Kesehatan Sekokah (UKS) juga hampir seluruhnya obat-obatan kimia.
Tidak beda jauh dengan obat-obatan, masyarakat kita lebih memilih buah-buahan impor dari pada buah lokal. Betapa kita tidak merasa prihatin menyaksikan bahwa buah-buahan lokal nyaris hampir hilang di pasaran karena kalah bersaing dengan buah-buah impor.Tidak lagi ada Apel Manalagi, yang ada Apel New Zeland; tidak ada lagi pepaya lokal, yang ada Pepaya Tailand; tidak ada lagi jambu lokal, yang ada Jambu Bangkok. Bahan buah asem lokal yang rasanya sangat masam, karena itu biasanya dipakai untuk memasak, tapi buah asem impor rasanya berubah seperti kurma. Kini yang buah-buah tersisa di pasaranhanya Tela (ubi), yaitu Tela Cilembu dan Tela Pacet. Ironis memang, tapi ini fakta.
Kenyataan ini memang terasa pahit, tapi memang begitu adanya sehingga dapat dipastikan keberadaan tanaman tanaman lokal tidak banyak yang dikenal oleh generasi termasuk pelajar-pelajar kita. Tanaman-tanaman itu dianggap liar dan tidak berguna sehingga pantas ditebang dan dimusnahkan. Atau paling tidak dibiarkan, mau hidup atau mau mati.
5. Masalah Makanan dan Kantin Sekolah
Makanan dan kantin di SMP Negeri 2 Gresik selama ini masih dikategorikan sedikit bermasalah. Ini karena makanan yang dijual dan pedagang-pedangang liar yang menjajakan makanannya di sekolah pada jam-jam tertentu, biasanya pada jam pulang sekolah sulit untuk dikendalikan. Misalnya mie instan yang sampai saat ini masih tersedia di kantin sekolah dengan berbagai alasan karena makanan jenis ini digemari banyak siswa. Makanan dan minuman yang dikemas dalam kantong plastik juga menjadi alasan klasik bagi pedagang-pedagang liar karena dianggap praktis dan tidak merugikan mereka karena jika menggunakan piring atau gelas akan membawa resiko hilang.
Upaya ini berkali-kali telah dicoba, minimal mengurangi, tapi sampai detik ini kesadaran baik para penjual maupun pembeli, dalam hal ini siswa, relatif kecil. Atau mungkin pihak sekolah belum optimal melakukan upaya ini. Sebagai dampaknya, sampah-sampah sampah plastik bungkus makanan dan minuman kerap kali tercecer di lingkungan sekolah. Namun demikian jika upaya mensosialisasikan bahaya makanan dan minuman yang tidak sehat termasuk bahaya platik bagi makan terus menerus didengungkan oleh banyak pihak, tentu saja kesadaran akan bahaya ini tertambat dalam benak warga sekolah yang selanjutnya dapat mempengaruhi warga sekitar.

C. Penetapan Masalah sebagai Program Utama
Sesuai dengan kondisi, kekuatan dan peluang yang dimiliki SMP Negeri 2 Gresikyang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka sekolah menetapkan masalah-masalah lingkungan berikut ini sebagai program utama dalam melaksanakan Kajian dan Rencana Aksi Lingkungan SMP Negeri 2 Gresik
1. Sampah
2. Keaneragaman hayati
Selanjutnya masalah-masalah di atas dipakai sebagai Tema Program Adiwiyata SMP Negeri 2 Gresik yang diharapkan dalam jangka waktu 2 tahun masalah-masalah di atas dapat dipecahkan. Lebih dari itu, melalui masalah-masalah lingkungan yang dietepkan ini membawa dampak pembelajaran bagi warga sekolah sekaligus warga sekitar sekolah.

Oleh karenanya saran kami kepada Pemerintah Kabupaten Gresik untuk tidak henti-hentinya memberikan dukungan baik moril maupun material dalam upaya sekolah merealisasikan Kajian dan Rencana Aksi Lingkungan di SMP Negeri 2 Gresik ini.

 

Guruku Pelitaku – Selamat Hari Guru

Kau bak matahari yang slalu menyinari bumi

Kau bak bulan yang tersenyum disetiap malam

Kau bak pelangi yang slalu mewarnai dunia

Kau membawa kami menuju lorong-lorong tak berujung

Dengan untaianmu kau menuntun kami

Tetaplah menjadi pelita kami, anak-anak bangsa

Cahyamu slalu ditunggu

Bukan untuk satu jiwa

Tapi untuk semua umat

“SELAMAT HARI  GURU”

Guruku Pelitaku

Bintangku Harapanku

Idul Adha 1435 H

idul adha

Dalam rangka menyambut “Idul Adha 1435 H” SMP Negeri 2 Gresik  melaksanakan penyembelihan hewan kurban 3 ekor sapi yang akan dilaksanakan pada hari Senin Tgl. 6 Oktiober 2014, daging dari hewan kurban akan dibagikan kepada yang berhak menerimanya.  Semoga amal Bapak/Ibu/Sdr yang membantu pelaksanaan kurban mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.  Aamiin ya robbal alamin …

Idul Fitri 1435 H

Mata kadang salah melihat, mulut kadang salah berucap dan hati kadang salah menduga ~ maafkan segala khilaf kami, mohon maaf lahir nan batin… Taqobballahu minna wa minkum. Semoga amal ibadah kita diterima Allah swt. Aamiin…

Keluarga Besar SMP Negeri 2 Gresik Mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H. Smoga bahagia dihari yg fitri ini. Aamiin…

Pengumuman Penerimaan PPDB 2014

Daftar nama siswa yang diterima di SMP Negeri 2 Gresik bisa dilihat di http://gresik.siap-ppdb.com atau datang langsung ke SMP Negeri 2 Gresik Jl. KH. Kholil No.16 Gresik pada hari Kamis, 10 Juli 2014.

Pengumuman Kelulusan Spendagres Tahun 2014

NILAI UN 2013/2014 SMP  NEGERI 2 GRESIK