Bookmark and Share

Public Junior High School 2 Gresik

SMP Negeri 2 Gresik Menuju Bilingual School More »

Spendagres

Spendagres is the best!!! More »

SMP Negeri 2 Gresik

Creative - Innovative - Competitive School More »

Welcome to smpnegeri2gresik.com

Portal Resmi SMP Negeri 2 Gresik More »

Berprestasi di Tingkat Nasional

Juara 1 LPIR SMP Tingkat Nasional Tahun 2013 di Bidang Sosial dan Juara 3 LPIR SMP Tingkat Nasional Tahun 2013 di Bidang Teknologi More »

Spendagres dan Prestasi

Prestasi Tenaga Pendidik Spendagres tahun 2013 More »

Student Achievements

Prestasi Siswa di tahun 2014 sangat membanggakan SMP Negeri 2 Gresik More »

 

Pendidikan Karakter ala Ki Hajar Dewantara Solusi Cerdas Atasi Masalah Bangsa

Ki Hajar DewantaraFenomena yang terjadi saat ini membuat kita orang tua mengelus dada. Betapa tidak, sesuatu yang selama ini dianggap layak untuk dilakukan malah semakin ditinggalkan. Hal yang patut untuk ditiru malah dianggap tabu. Kita sangat merindukan perilaku pada anak-anak seusia sekolah. Di mana mereka bisa bertutur kata pada orang tua, kasih sayang pada sesama, berpamitan pada orang tua sebelum sekolah. Pandai bergaul dan berkumpul. Itu sebagian kecil perilaku pada diri anak-anak yang memang mulai luntur dan lentur. Justru  sebaliknya kita sering menjumpai anak-anak tidak punya etika dan susila, melanggar norma dan tata krama, pudarnya sendi-sendi kemanusiaan serta kepribadian. Orang tua yang telah melahirkannya dianggap sebagai kawan, guru yang sepatutnya digugu dan ditiru dianggap teman sepermainan, mudah emosi, sulit mengontrol diri, tidak bisa menciptakan jati diri. Apapun model dan bentuk pelangggaran yang dilakukan oleh sebagian siswa tadi memberikan pencitraan yang jelas bagi kita yaitu pudarnya keteladanan.

Berkaitan dengan keteladanan tentu saja kita tidak dapat melupakan tokoh pendidikan yang setiap tanggal 2 Mei kita peringati sebagai sosok yang banyak memberikan inspirasi dan inovasi dalam dunia pendidikan. Dialah pahlawan sekaligus tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Mengenang Ki Hajar Dewantara coba kita ingat kembali prinsip beliau “Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani”. Kita bisa mengartikan kurang lebih “Yang depan dijadikan contoh, yang tengah membangun kehendak yang belakang tinggal mengikuti”. Sangat sederhana memang tapi tidak semudah membalik telapak tangan.

Secara teoretis dan praktis tentu kita paham dengan dogma Ki Hajar Dewantara.tak salah memang jika slogan “Tutwuri Handayani” dipakai sebagai ikon Depdiknas karena stressing problem ada pada siswa. Realitas yang terjadi di masyarakat terkait dengan keteladanan bisa kita uraikan mulai dari pendidikan informal (keluarga), pendidikan formal (sekolah), pendidikan luar sekolah (masyarakat) dan wakil masyarakat (DPR/MPR) Berangkat dari paradigma Ki Hajar Dewantara mari kita tarik benang merah relevansi keteladanan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Pertama pendidikan informal (dalam keluarga), ranah ini merupakan jenjang pendidikan yang paling fundamental dan signifikan dalam membentuk keteladanan menuju National and Character Building. Sebagai orang tua harus mencerminkan figur bagi anak-anaknya. Dia harus menjadi anutan dan tuntunan. Jangan hanya menjadi aduan  dan tontonan. Barangkali sebagai contoh konkret diawali dari kelahiran anak, seorang ayah harus mampu mengadzani/memperdengarkan kalimat-kalimat toyibah, ibaratnya ayah sebagai pengisi pita suara/kaset. Ia harus mengisi pita kosong dengan  suara bagus dan benar agar kaset yang tercetak terekam kuat kelak dalam memori anaknya. Kita juga pernah mendengar teori tabularasa. Anak ibarat meja mlilin putih orang tuanya yang akan menulisi meja  Memasuki masa kanak-kanak lagi-lagi peran orang tua menempati porsi utama bagaimana ia berbahasa, bertingkah dan bertutur kata akan ditiru oleh buah hatinya. Dari sinilah pelajaran unggah-unggah mutlak diperlukan. Ironisnya orang tua justru tidak bisa dijadikan contoh tetapi hanya mampu memberi contoh. Akibatnya kontradiktif lama-kelamaan pribadi anak menjadi rapuh. (Wuryanti, 2005:312-317 dalam Yuwana) menyatakan, pada masa lampau jumlah tingkat tutur yang digunakan masyarakat Jawa sangat banyak, yaitu: tingkatan ngoko dengan variasinya, madya dengan variasinya, dan krama dengan variasinya, jika untuk kepentingan berkomunikasi secara umum. Melihat penjelasan tersebut seorang ayah harus mampu memosisikan sebagai sosok yang bertutur kata secara santun. Kalau perlu ketika berkomunikasi tidak menggunakan bahasa kasar tujuannya agar kelak tidak ditiru si anak. Lebih lanjut  Kiliaan (1919), Prijohoetomo (1937:31-35), dan Kementerian Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan 1946:86-87 dalam Yuwana) merinci tingkat tutur bahasa Jawa menjadi ngoko lugu, ngoko andhap, madya, krama, basa kasar, dan basa kedhaton. Tingkat tutur ngoko andhap dirinci lagi menjadi antyabasa dan basa antya. Tingkat tutur madya dirinci menjadi madya ngoko, madyantara, madya krama, krama ndesa, krama inggil. Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa tingkat tutur bahasa Jawa memang amatlah rumit. Masing-masing jenis memiliki aturan pemakaian. Namun apabila kita terbiasa menggunakannya dalam lingkup keluarga maka paling tidak kita bisa membangun pembiasaan keteladanan berawal dari pendidikan keluarga.

Kedua pendidikan formal (sekolah), kita juga tidak dapat memungkiri bahwa jumlah jam pelajaran untuk bahasa Jawa sebagai Mulok utama hanya 2 jp di tiap-tiap sekolah sangat minim selain itu bahasa jawa dianggap bahasa pinggiran dan kampungan menyebabkan anak malas menggunakannya. Bahkan mayoritas anak zaman sekarang yang hanya pandai berbahasa Jawa namun tak pandai berbahasa Indonesia atau Inggris ia dianggap kampungan, kurang pergaulan,  dan cenderung termarginalkan. Kita bisa menghitung dengan jari berapa anak usia sekolah yang mampu menggunakan bahasa krama inggil kepada gurunya.  Apabila anak berkomunikasi pada sesama lazimnya menggunakan tingkat tutur jenis ngoko. Sedangkan untuk penghormatan, yang digunakan adalah tingkat tutur krama. Tingkat tutur ngoko bisa juga digunakan untuk penghormatan mitra tutur namun dalam kapasitas sedikit atau tidak sangat menghormat. Untuk mengenali lebih dalam berikut merupakan ciri-ciri masing-masing tingkat tutur. Untuk tipe yang biasa atau tanpa penghormatan, tingkat tutur ngoko memiliki ciri seluruh rangkaian kalimat menggunakan kosa kata ngoko. Jenis ini disebut ngoko lugu. Apabila untuk sedikit menghormat, cirinya adalah bahwa tidak seluruh rangkaian kalimat ngoko karena dicampur dengan kosa kata krama/karma inggil pada bagian kata ganti dan kata kerja yang menunjuk orang yang dihormati. Melihat penjelasan ini minimal anak menggunakan bahasa krama/krama inggil pada gurunya karena guru merupakan orang yang harus dimuliakan tetapi kenyataannya sangat jarang siswa berbahasa krama/krama inggil. Pemakaian kata ini sebagai wujud penghormatan dengan cara merendahkan kedudukan penutur dari mitra tutur. Setali tiga uang guru tak jarang juga kurang bisa dijadikan teladan apalagi siswa seusia SMP/SMU malah dianggap teman curhatnya. Guru kurang pandai menjaga jarak.  Kita bisa melihat ada siswa berani pada gurunya, oknum guru menempeleng siswanya, bahkan naudzubillah min dzaalik tsumma ada guru bertindak asusila dengan muridnya. Semua catatan tadi berakar pada keteladanan yang berakibat merosotnya harkat, derajat, dan martabat  serang guru.

Ketiga masyarakat,  kita menyadari bahwa selain sebagai makhluk pribadi kita juga sebagai makhluk sosial. Artinya suatu saat anak akan berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat yang mana ? Yang mana saja karena hakikatnya masyarakat adalah kumpulan orang-orang yang tinggal di suatu wilayah membentuk ekosistem, berprinsip take and give, saling toleransi dan mengisi. Ironisnya apa yang disaksikan oleh anak-anak terkadang menimbulkan kecemburuan yang tinggi dipacu faktor kesenjangan. Sebagai ilustrasi awal kita sering melihat berita via media massa dan cetak di daerah-daerah tertentu terjadi tawuran massal antara warga lokal dengan warga pendatang (perumahan). Hal ini dipicu oleh hal yang sangat sepele, yaitu keteladanan. Secara deskriptif kita kita berargumen mereka yang tinggal di perumahan elit umumnya kelas menengah ke atas. Jarang bersosialisasi dan berkomunikasi dengan warga sekitar. Yang nampak hanya kompetisi dan kompetisi akibatnya kecemburuan dan tawuran. Andaikata saja mereka yang mayoritas masyarakat pendidikan kelas menengah ke atas mau serta mampu berinteraksi dengan warga sekitar tentu saja akan terbentuk masyarakat madani yang insani berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945. Di antara pendidikan karakter bangsa kita bisa melihat karakter peduli lingkungan dan peduli sosial ini yang harus kita tanamkan sejak dini pada diri anak-anak kita. Perbedaan yang membawa persatuan dan kesatuan dan tentu saja semuanya tadi bermuara dari keteladan.

Keempat wakil masyarakat (DPR/MPR), teringat lagu Iwan Fals … wakil rakyat seharusnya merakyat, wakil rakyat bukan paduan suara… Sepenggal lagu di era 1970-an sangat melegenda di benak kita. Sebagai wakil rakyat seharusnya ia mampu menjadi teladan masyarakat. Karena hakikatnya ia adalah abdi yang membawa aspirasi masyarakat untuk mencari jalan keluarnya, mencari  win-win solusion agar rakyat Indonesia semakin lama semakin baik, semakin bermartabat, dan semakin cerdas menuju masyarakat yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan. Namun karena  ia tidak bisa dijadikan teladan justru menjadi bahan cemoohan. Kita teringat kasus oknum wartawan membuka web porno saat rapat, kasus perselingkuhan, sampai pada malasnya anggota dewan untuk sekadar mengisi daftar hadir pada rapat-rapat paripurna. Fenomena tersebut hampir tiap hari kita saksikan. Pertanyaannya di mana hati nurani mereka, mana  janji mereka sewaktu berkampanye dulu? Lagu merdu yang mampu meninabobokkan rakyat yang malah menjadi bumerang bagi dirinya. Akibatnya jelas ia sudah tidak punya rasa malu dan ini merupakan indikasi bahwa ia sudah tidak mampu untuk dijadikan teladan bagi rakyat.

Prinsip keteladanan memang harga mati bagi anak-anak terutama anak seusia sekolah. Ia tidak mempunyai nalar yang luas untuk menerjemahkan sesuatu yang diterimanya. Yang menjadi barometer hanyalah keteladanan. Manakala anak kurang puas dengan idolanya karena secara kebetulan kurang sesuai dengan pola pikirnya, anak akan lebih mudah menjustise bahwa ia sosok yang kurang pas untuk dijadikan contoh. Jawaban dari permasalahan tersebut jelas anak akan mencari pelampiasan dengan mencari kesibukan yang tak jarang bertentangan dengan nilai-nila moral dan agama. Contoh anak-anak lebih lama dalam bermain game online, ataupun membuka situs yang kurang layak dikonsumsinya daripada harus membuka web yang bertema pendidikan. Lama-kelamaan menjadi ketagihan dan akhirnya menjadi kronis. Peran orang tua dalam mendamping dan mengajarkan keteladanan mutlak diperlukan di sini. Fakta juga membuktikan anak yang mengalami broken home, sebagian besar dipicu oleh kurangnya perhatian dan keteladanan dari orang tua.

Berdasarkan penjelasan tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa keteladan mutlak diperlukan di segala lapisan masyarakat mulai dari rakyat jelata sampai pejabat, mulai dari tingkat kanak-kanak sampai mahasiswa. Keteladanan jawaban yang tidak terbantahkan. Solusi dalam menumbuhkembangkan keteladanan di segala lapisan adalah sebagai berikut : 1) Sebagai orang tua, guru maupun tokoh masyarakat, kita harus siap dijadikan contoh jangan hanya pandai memberi contoh 2) Tanamkan perilaku  positif sejak dini pada diri anak walaupun sepele, 3) Pelajaran dan pendidikan unggah-unggah wajib diajarkan pada anak-anak kita agar mereka pandai memilah dan memilih, 4) Tanamkan kebersamaan dalam masyarakat hapus kesenjangan di segala lapisan, dan 5) Isi waktu luang dengan hal positif. Paling tidak uraian singkat di atas mampu memberikan jawaban terhadap permasalahan yang saat ini sering kita saksikan, yaitu keteladanan.

dion  Written :
Mahmudiono, M.Pd.
(Indonesian Teacher)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *