Bookmark and Share

Public Junior High School 2 Gresik

SMP Negeri 2 Gresik Menuju Bilingual School More »

Spendagres

Spendagres is the best!!! More »

SMP Negeri 2 Gresik

Creative - Innovative - Competitive School More »

Welcome to smpnegeri2gresik.com

Portal Resmi SMP Negeri 2 Gresik More »

Berprestasi di Tingkat Nasional

Juara 1 LPIR SMP Tingkat Nasional Tahun 2013 di Bidang Sosial dan Juara 3 LPIR SMP Tingkat Nasional Tahun 2013 di Bidang Teknologi More »

Spendagres dan Prestasi

Prestasi Tenaga Pendidik Spendagres tahun 2013 More »

Student Achievements

Prestasi Siswa di tahun 2014 sangat membanggakan SMP Negeri 2 Gresik More »

 

Senangnya Jadi Guru Dambaan Siswa

guru favoritGuru adalah orang yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan. Ia adalah cahaya yang menerangi kehidupan manusia dan menjadi musuh kebodohan. Guru bagai nakhoda piawai yang mampu menyetir kemudi kapal dan menghantarkan semua penumpang ke pulau yang mereka dambahkan. Guru bak lilin yang menerangi lorong gelap menjadi terang benderang.
Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Di sekolah guru merupakan unsur yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan selain unsur murid dan fasilitas lainnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan kesiapan guru dalam mempersiapkan siswanya melalui kegiatan belajar mengajar. Namun demikian posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional guru dan mutu kinerjanya. Guru menjadi ujung tombak pendidikan sebab secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan siswa, sebagai ujung tombak, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik, pembimbing dan pengajar dan kemampuan tersebut tercermin pada kompetensi guru. Berkualitas tidaknya proses pendidikan sangat tergantung pada kreativitas dan inovasi yang dimiliki guru. Gunawan (1996) mengemukakan bahwa Guru merupakan perencana, pelaksana sekaligus sebagai evaluator pembelajaran di kelas, maka siswa merupakan subjek yang terlibat langsung dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Dalam meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu pendidikan yang baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru. Menurut Pidarta (1999) bahwa setiap guru adalah merupakan pribadi yang berkembang. Bila perkembangan ini dilayani, sudah tentu dapat lebih terarah dan mempercepat laju perkembangan itu sendiri, yang pada akhirnya memberikan kepuasan kepada guru-guru dalam bekerja di sekolah sehingga sebagai pekerja, guru harus berkemampuan yang meliputi unjuk kerja, penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya. Kehadiran guru dalam proses pembelajaran di sekolah tetap memegang peranan yang penting. Peran tersebut belum dapat diganti dan diambil alih oleh apapun. Hal ini disebabkan karena masih banyak unsur-unsur manusiawi yang tidak dapat diganti oleh unsur lain. Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. (Wijaya dan Rusyan, 1994). Dari uraian di atas jelas bahwa betapa beratnya tugas guru untuk mengemban amanat mengawal dan mengantarkan pendidikan para penerus bangsa ini. Oleh karena itu kehadiran guru sangat penting bagi siswa dalam proses peralihan ilmu. Peralihan ilmu apapun akan tergantung kepada banyak hal. Suasana batin dan emosional orang tua, guru, dan siswa sendiri. Orang tua seratus persen ikhlas mengantarkan anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik sampai jenjang apapun. Seakan guru sebagai wakil orang tua seharusnya suasana kebatinannya sama ikhlas mentranfer ilmu tanpa ada perasaan bukan anak sendiri atau terpengaruh oleh emosional yang lain. Siswa pun demikian, harus dapat menerima kehadiran guru sebagai sosok yang dapat mewakili orang tua dan mengalirkan ilmunya. Tetapi tidak demikian kadang ketiganya tidak sesuai harapan. Contoh kecil saja, tidak semua siswa menyukai sosok guru tertentu dengan berbagai alasan. Alangka indahnya guru yang kehadirnya dinantikan dan ketidakhadirannya menjadi kerinduan. Kehadiran guru menjadikan semangat siswa meningkat. Keceriaan, gelak tawa, keseriusan, dan suasana kompetisi terasa. Lalu bagaimana agar guru selalu dinanti dan didambahkan oleh siswanya? Pertama, kenali diri dan keluarga siswa. Guru diharapkan mengenali diri siswa kelebihan dan kekurangnnya serta implikasi dari perilaku siswa di ruang kelas saat pembelajaran dan di luar kelas saat berinteraksi dengan masyarakat. Mengenali siswa yang paling kecil adalah mengetahui nama. Siswa akan merasa nyaman dan bangga bila namanya dipanggil. Apalagi panggilan dengan nada lembut dan tulus. Nama panggilan siswa misal nama lengkapnya Muhammad Abidin, guru memanggil ”Bidin” sesuai dengan panggilan sehari-harinya. Nama Salsabila, dipanggil ”Bila”. Siswa akan merasa nyaman dan bangga. Dengan memanggil nama secara halus, akan membuat suasana kebatinan akan lebih baik. Maka terjalin suasana kebatinan yang akan membuka hati keduanya menjadikan pembelajaran semakin muda mengalir dengan nayaman dan tulus. Sebaliknya jangan sekali-kali memanggil dengan nama yang jelek karena akan menjatuhkan mental siswa di hadapan teman-temannya. Kedua, mengahargai martabat dan pribadi siswa. Penghargaan dan pribadi peserta didik dilakukan dengan banyak cara. Memanggil nama dengan benar, memberikan pujian atas yang dilakukan baik itu benar maupun salah, menanyakan bagaimana keadaan diri dan keluarga.
Ketiga, memosisikan diri sebagai orang tua. Fungsi guru akan merasa lengkap bila dapat memosisikan diri sebagai orang tua juga di sekolah. Orang tua yang sudah memberikan kasih sayang di sekolah dengan tulus, dilanjutkan pula di sekolah oleh guru. Peran menjadi orang tua terasa tidak berlebihan karena fungsi guru tidak hanya mengajar (intraksional), mengatur (managerial), evaluasi (evalue), tetapi guru juga mendidik (edukasi). Keempat, memposisikan sebagai teman. Guru juga bisa sebagai teman. Kedudukan guru tidak hanya dibatasi oleh status karena guru tetapi akan lebih terasa familier atau rasa kekeluargaan. Posisi sebagai teman ini akan melepas dan membuka batas dan sekat dari formalitas menjadi seperti teman. Dengan demikian rahasia dan masalah pribadi dan keluhan emosional apapun dapat disampaikan (curhat) kepada guru. Kelima, berikan cinta yang tulus. Cinta adalah sikap batin yang akan melahirkan kelembutan, kesabaran, kelapangan, kreativitas, serta tawakal. Hampir semua guru berkeinginan untuk bisa mencitai siswanya. Harapannya, siswa juga dapat mencintai dirinya. Inilah fitrah sesungguhnya. Namun kenyataannya, tidak semua guru berhasil melakukan hal ini. Bahkan ada guru yang merasa tidak pernah berhsil mencintai siswanya, meski berbagai usaha dilakukan. Akhirnya, respon cinta dari para siswa yang diharapkan dan ditunggu-tunggu tak kunjung muncul juga. Niat guru untuk mendidik siswa dengan cinta kasih, tanpa harus membentak, mencubit, atau berteriak keras, tidak kesampaian. Guru sangat sering mengalami kejadian yang mengesalkan. Di saat mati-matian menata kelas supaya tenang, satu atau dua siswa merusak usasana dengan bicara sendiri, ramai dan bertengkar. Akhirnya dengan cepat kesadaran guru untuk sabar dan penuh cainta kasih hilang. Emosional tiba-tiba muncul dengan kata-kata kasar dan bernada tinggi. ”Diam..!”, ”Hentikan..!” ”Duduk..!” ”dan ada kata-kata bernada ancaman. ”Awas!” Ada dua kemungkinan yang menyebabkan kegagagalan guru untuk mewujudkan makna cintanya ke siswa, pertama, guru tidak mampu membahasakan cintanya, sehingga sinyal-sinyal cinta itu tidak tertangkap oleh siswa. Kedua, guru tidak menyiapkan hatinya dengan baik sehingga tidak sabar ingin melihat respon cinta dari siswa. Lebih parah lagi jika belum tumbuhnya cinta di dalam hati guru. Oleh karena itu guru harus selalu sabar dan menunjukkan kelembutan kepad siswa dengan ikhlas. Hal ini sesuai diajarkan dalam Al-Qur’an berikut: ”Maka berkat rahmat Alloh engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. (Q.S. Ali’Imron (3 :159). Murze cendekiawan pendidikan berpendapat bahwa guru yang dicintai seorang guru yang memiliki sifat ramah dalam berinteraksi kepada sesama, memahami orang lain, menghormati tanggung jawab, disiplin dalam sikap dan tugas-tugasnya, dan mampu berinisiatif dan onovatif. Lebih lanjut Robert Rowen hasil riset yang dilakukan, ia berendapat bahwa guru yang dicintai harus melakukan hal-hal sebagai berikut: menjadikan pengajaran sebagai sesuatu yang dirindukan, menguasai denbgan baik materi pelajaran yang menjadi spesifikasinya, mampu berbicara dengan semangat dan penuh antusiasme, mampu menyusun materi ilmiah, memotivasi dan mensupport murid-muridnya, memiliki jiwa humoris, perhatian kepada murid-muridnya, kata-katanya mampu memberikan kenyamanan dalam jiwa, bersih dan rapi dalam berpakaian.
Keenam, berikan penghargaan (reward) dan pujian. Pujian guru kepada siswa hendaknya diberikan setiap saat. Pujian (praise) didefinisikan dalam Webster’s (2000) sebagai”tindakan mengungkapkan persetujuan atau kekaguman”. Guru perlu memberi pujian untuk menumbuhkan rasa siswa tentang”harga diri, otonomi, kemadirian, prestasi dan minat untuk belajar”. Pujian sering diberikan pada akhir tugas untuk pekerjaan yang dianggap ”baik dilakukan (Hitz). Pujian adalah strategi yang bertujuan untuk mendorong para siswa untuk memantau makna dan mengoreksi diri. Pujian yang bisa mengena langsung ke siswa adalah dengan kata-kata. Seperti, ”Kamu hebat, bagus, oke, benar, pertahankan, terus semangat, dan kata lainnya”. Ketujuh, hindari hukuman (punishment), berikan penghargaa (reward). Hukuman (punishment) menurut Burrhud Frederic Skinner, terjasinya ketika suatu respons menghilangkan sesuatu yang positif dari situasi atau menambahkan sesuatu yang negatif. Dalam bahsa seheari-hari kita dapat mengatakan bahwa hukuman adalah mencegah pemberian sesuatu yang diharapkan organisme, atau memberi organisme sesuati yang tidak diinginkan. Walaupun hukuman bisa menekan sesuatu respons selama hukuman diterapkan, namun hukuman tidak akan melamahkan kebiasaan. Skinner (1971) mengatakan, Hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tidak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkurang kemungkinan mengulani perilaku yang sama. Sayangnya, persoalannya tidak sederhana itu. Pengharagaan (reward) adalah bentuk apresiasi kepada suatu prestasi tertentu yang diberikan, baik oleh dan dari perorangan ataupun suatu lembaga yanag biasanya dalam bentuk materi atau ucapan. Fungsi penghargaan adalah, memperkuat motivasi untuk memacu diri agar mencapai prestasi, memberi tanda bagi seseorang yang memiliki kemampuan lebih. Kedelapan, hadirkan siswa dalam do’a. Guru juga sebagai ”orang tua kedua” bagi anak. Maka, hendaklanya guru memang berusaha untuk mewujudkan harapan siswanya saat berdoa. Kehadiran siswa selalu terlintas dan menjadi bagian dari isi do’a yang disampaikan kepada Allah SWT waktu salat fardu dan salat malam (qiyamullail). Memohonlah kepada Alloh SWT agar memberikan kemudahan dan kejelasan atas ilmu yang disampaikan ke siswa. Juga semoga Allah SWT melimpahkan kebenaran di atas lisan dan hati Bapak dan Ibu guru. Serta dilancarkan ucapan sehingga siswa mudah memahami. Amin. Bila semua itu dilakukan oleh guru dengan ihklas dan profesional maka tidak mustahil para siswa mendabahkan kehadirannya. Alangkah senangnya bila guru itu keberadaannya dinantikan oleh para siswanya. Guru yang demikian menjadi idola di sekolah. Sapaan-sapaan, dan panggilan dari berbagai arah menyebut nama guru idola tersebut. Sampai para siswa sudah lulus pun terus silaturrahmi dan menjalin hubungan yang baik. Kenangan dan kebaikan guru idola selalu diingat dan menjadi memori yang tidak pernah terlupakan.

dion Written :

Mahmudiono, M.Pd. (Indonesian Teacher, mahmud72_bila@yahoo.com)

One Response to Senangnya Jadi Guru Dambaan Siswa

  1. Aprita says:

    dan semoga diberikan kesabaran dalam berbagi ilmu dan menghadapi siswa, supaya jadi berkah juga ilmunya kalau disampaikan dengan baik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *