Bookmark and Share

Public Junior High School 2 Gresik

SMP Negeri 2 Gresik Menuju Bilingual School More »

Spendagres

Spendagres is the best!!! More »

SMP Negeri 2 Gresik

Creative - Innovative - Competitive School More »

Welcome to smpnegeri2gresik.com

Portal Resmi SMP Negeri 2 Gresik More »

Berprestasi di Tingkat Nasional

Juara 1 LPIR SMP Tingkat Nasional Tahun 2013 di Bidang Sosial dan Juara 3 LPIR SMP Tingkat Nasional Tahun 2013 di Bidang Teknologi More »

Spendagres dan Prestasi

Prestasi Tenaga Pendidik Spendagres tahun 2013 More »

Student Achievements

Prestasi Siswa di tahun 2014 sangat membanggakan SMP Negeri 2 Gresik More »

 

Category Archives: Education

Senangnya Jadi Guru Dambaan Siswa

guru favoritGuru adalah orang yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan. Ia adalah cahaya yang menerangi kehidupan manusia dan menjadi musuh kebodohan. Guru bagai nakhoda piawai yang mampu menyetir kemudi kapal dan menghantarkan semua penumpang ke pulau yang mereka dambahkan. Guru bak lilin yang menerangi lorong gelap menjadi terang benderang.
Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. Di sekolah guru merupakan unsur yang sangat mempengaruhi tercapainya tujuan pendidikan selain unsur murid dan fasilitas lainnya. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan kesiapan guru dalam mempersiapkan siswanya melalui kegiatan belajar mengajar. Namun demikian posisi strategis guru untuk meningkatkan mutu hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kemampuan profesional guru dan mutu kinerjanya. Guru menjadi ujung tombak pendidikan sebab secara langsung berupaya mempengaruhi, membina dan mengembangkan siswa, sebagai ujung tombak, guru dituntut untuk memiliki kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik, pembimbing dan pengajar dan kemampuan tersebut tercermin pada kompetensi guru. Berkualitas tidaknya proses pendidikan sangat tergantung pada kreativitas dan inovasi yang dimiliki guru. Gunawan (1996) mengemukakan bahwa Guru merupakan perencana, pelaksana sekaligus sebagai evaluator pembelajaran di kelas, maka siswa merupakan subjek yang terlibat langsung dalam proses untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu guru dituntut memiliki kinerja yang mampu memberikan dan merealisasikan harapan dan keinginan semua pihak terutama masyarakat umum yang telah mempercayai sekolah dan guru dalam membina anak didik. Dalam meraih mutu pendidikan yang baik sangat dipengaruhi oleh kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya sehingga kinerja guru menjadi tuntutan penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Secara umum mutu pendidikan yang baik menjadi tolok ukur bagi keberhasilan kinerja yang ditunjukkan guru. Menurut Pidarta (1999) bahwa setiap guru adalah merupakan pribadi yang berkembang. Bila perkembangan ini dilayani, sudah tentu dapat lebih terarah dan mempercepat laju perkembangan itu sendiri, yang pada akhirnya memberikan kepuasan kepada guru-guru dalam bekerja di sekolah sehingga sebagai pekerja, guru harus berkemampuan yang meliputi unjuk kerja, penguasaan materi pelajaran, penguasaan profesional keguruan dan pendidikan, penguasaan cara-cara menyesuaikan diri dan berkepribadian untuk melaksanakan tugasnya. Kehadiran guru dalam proses pembelajaran di sekolah tetap memegang peranan yang penting. Peran tersebut belum dapat diganti dan diambil alih oleh apapun. Hal ini disebabkan karena masih banyak unsur-unsur manusiawi yang tidak dapat diganti oleh unsur lain. Guru merupakan faktor yang sangat dominan dan paling penting dalam pendidikan formal pada umumnya karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh teladan bahkan menjadi tokoh identifikasi diri. (Wijaya dan Rusyan, 1994). Dari uraian di atas jelas bahwa betapa beratnya tugas guru untuk mengemban amanat mengawal dan mengantarkan pendidikan para penerus bangsa ini. Oleh karena itu kehadiran guru sangat penting bagi siswa dalam proses peralihan ilmu. Peralihan ilmu apapun akan tergantung kepada banyak hal. Suasana batin dan emosional orang tua, guru, dan siswa sendiri. Orang tua seratus persen ikhlas mengantarkan anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik sampai jenjang apapun. Seakan guru sebagai wakil orang tua seharusnya suasana kebatinannya sama ikhlas mentranfer ilmu tanpa ada perasaan bukan anak sendiri atau terpengaruh oleh emosional yang lain. Siswa pun demikian, harus dapat menerima kehadiran guru sebagai sosok yang dapat mewakili orang tua dan mengalirkan ilmunya. Tetapi tidak demikian kadang ketiganya tidak sesuai harapan. Contoh kecil saja, tidak semua siswa menyukai sosok guru tertentu dengan berbagai alasan. Alangka indahnya guru yang kehadirnya dinantikan dan ketidakhadirannya menjadi kerinduan. Kehadiran guru menjadikan semangat siswa meningkat. Keceriaan, gelak tawa, keseriusan, dan suasana kompetisi terasa. Lalu bagaimana agar guru selalu dinanti dan didambahkan oleh siswanya? Pertama, kenali diri dan keluarga siswa. Guru diharapkan mengenali diri siswa kelebihan dan kekurangnnya serta implikasi dari perilaku siswa di ruang kelas saat pembelajaran dan di luar kelas saat berinteraksi dengan masyarakat. Mengenali siswa yang paling kecil adalah mengetahui nama. Siswa akan merasa nyaman dan bangga bila namanya dipanggil. Apalagi panggilan dengan nada lembut dan tulus. Nama panggilan siswa misal nama lengkapnya Muhammad Abidin, guru memanggil ”Bidin” sesuai dengan panggilan sehari-harinya. Nama Salsabila, dipanggil ”Bila”. Siswa akan merasa nyaman dan bangga. Dengan memanggil nama secara halus, akan membuat suasana kebatinan akan lebih baik. Maka terjalin suasana kebatinan yang akan membuka hati keduanya menjadikan pembelajaran semakin muda mengalir dengan nayaman dan tulus. Sebaliknya jangan sekali-kali memanggil dengan nama yang jelek karena akan menjatuhkan mental siswa di hadapan teman-temannya. Kedua, mengahargai martabat dan pribadi siswa. Penghargaan dan pribadi peserta didik dilakukan dengan banyak cara. Memanggil nama dengan benar, memberikan pujian atas yang dilakukan baik itu benar maupun salah, menanyakan bagaimana keadaan diri dan keluarga.
Ketiga, memosisikan diri sebagai orang tua. Fungsi guru akan merasa lengkap bila dapat memosisikan diri sebagai orang tua juga di sekolah. Orang tua yang sudah memberikan kasih sayang di sekolah dengan tulus, dilanjutkan pula di sekolah oleh guru. Peran menjadi orang tua terasa tidak berlebihan karena fungsi guru tidak hanya mengajar (intraksional), mengatur (managerial), evaluasi (evalue), tetapi guru juga mendidik (edukasi). Keempat, memposisikan sebagai teman. Guru juga bisa sebagai teman. Kedudukan guru tidak hanya dibatasi oleh status karena guru tetapi akan lebih terasa familier atau rasa kekeluargaan. Posisi sebagai teman ini akan melepas dan membuka batas dan sekat dari formalitas menjadi seperti teman. Dengan demikian rahasia dan masalah pribadi dan keluhan emosional apapun dapat disampaikan (curhat) kepada guru. Kelima, berikan cinta yang tulus. Cinta adalah sikap batin yang akan melahirkan kelembutan, kesabaran, kelapangan, kreativitas, serta tawakal. Hampir semua guru berkeinginan untuk bisa mencitai siswanya. Harapannya, siswa juga dapat mencintai dirinya. Inilah fitrah sesungguhnya. Namun kenyataannya, tidak semua guru berhasil melakukan hal ini. Bahkan ada guru yang merasa tidak pernah berhsil mencintai siswanya, meski berbagai usaha dilakukan. Akhirnya, respon cinta dari para siswa yang diharapkan dan ditunggu-tunggu tak kunjung muncul juga. Niat guru untuk mendidik siswa dengan cinta kasih, tanpa harus membentak, mencubit, atau berteriak keras, tidak kesampaian. Guru sangat sering mengalami kejadian yang mengesalkan. Di saat mati-matian menata kelas supaya tenang, satu atau dua siswa merusak usasana dengan bicara sendiri, ramai dan bertengkar. Akhirnya dengan cepat kesadaran guru untuk sabar dan penuh cainta kasih hilang. Emosional tiba-tiba muncul dengan kata-kata kasar dan bernada tinggi. ”Diam..!”, ”Hentikan..!” ”Duduk..!” ”dan ada kata-kata bernada ancaman. ”Awas!” Ada dua kemungkinan yang menyebabkan kegagagalan guru untuk mewujudkan makna cintanya ke siswa, pertama, guru tidak mampu membahasakan cintanya, sehingga sinyal-sinyal cinta itu tidak tertangkap oleh siswa. Kedua, guru tidak menyiapkan hatinya dengan baik sehingga tidak sabar ingin melihat respon cinta dari siswa. Lebih parah lagi jika belum tumbuhnya cinta di dalam hati guru. Oleh karena itu guru harus selalu sabar dan menunjukkan kelembutan kepad siswa dengan ikhlas. Hal ini sesuai diajarkan dalam Al-Qur’an berikut: ”Maka berkat rahmat Alloh engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. (Q.S. Ali’Imron (3 :159). Murze cendekiawan pendidikan berpendapat bahwa guru yang dicintai seorang guru yang memiliki sifat ramah dalam berinteraksi kepada sesama, memahami orang lain, menghormati tanggung jawab, disiplin dalam sikap dan tugas-tugasnya, dan mampu berinisiatif dan onovatif. Lebih lanjut Robert Rowen hasil riset yang dilakukan, ia berendapat bahwa guru yang dicintai harus melakukan hal-hal sebagai berikut: menjadikan pengajaran sebagai sesuatu yang dirindukan, menguasai denbgan baik materi pelajaran yang menjadi spesifikasinya, mampu berbicara dengan semangat dan penuh antusiasme, mampu menyusun materi ilmiah, memotivasi dan mensupport murid-muridnya, memiliki jiwa humoris, perhatian kepada murid-muridnya, kata-katanya mampu memberikan kenyamanan dalam jiwa, bersih dan rapi dalam berpakaian.
Keenam, berikan penghargaan (reward) dan pujian. Pujian guru kepada siswa hendaknya diberikan setiap saat. Pujian (praise) didefinisikan dalam Webster’s (2000) sebagai”tindakan mengungkapkan persetujuan atau kekaguman”. Guru perlu memberi pujian untuk menumbuhkan rasa siswa tentang”harga diri, otonomi, kemadirian, prestasi dan minat untuk belajar”. Pujian sering diberikan pada akhir tugas untuk pekerjaan yang dianggap ”baik dilakukan (Hitz). Pujian adalah strategi yang bertujuan untuk mendorong para siswa untuk memantau makna dan mengoreksi diri. Pujian yang bisa mengena langsung ke siswa adalah dengan kata-kata. Seperti, ”Kamu hebat, bagus, oke, benar, pertahankan, terus semangat, dan kata lainnya”. Ketujuh, hindari hukuman (punishment), berikan penghargaa (reward). Hukuman (punishment) menurut Burrhud Frederic Skinner, terjasinya ketika suatu respons menghilangkan sesuatu yang positif dari situasi atau menambahkan sesuatu yang negatif. Dalam bahsa seheari-hari kita dapat mengatakan bahwa hukuman adalah mencegah pemberian sesuatu yang diharapkan organisme, atau memberi organisme sesuati yang tidak diinginkan. Walaupun hukuman bisa menekan sesuatu respons selama hukuman diterapkan, namun hukuman tidak akan melamahkan kebiasaan. Skinner (1971) mengatakan, Hukuman didesain untuk menghilangkan terulangnya perilaku yang ganjil, berbahaya, atau perilaku yang tidak diinginkan lainnya dengan asumsi bahwa seseorang yang dihukum akan berkurang kemungkinan mengulani perilaku yang sama. Sayangnya, persoalannya tidak sederhana itu. Pengharagaan (reward) adalah bentuk apresiasi kepada suatu prestasi tertentu yang diberikan, baik oleh dan dari perorangan ataupun suatu lembaga yanag biasanya dalam bentuk materi atau ucapan. Fungsi penghargaan adalah, memperkuat motivasi untuk memacu diri agar mencapai prestasi, memberi tanda bagi seseorang yang memiliki kemampuan lebih. Kedelapan, hadirkan siswa dalam do’a. Guru juga sebagai ”orang tua kedua” bagi anak. Maka, hendaklanya guru memang berusaha untuk mewujudkan harapan siswanya saat berdoa. Kehadiran siswa selalu terlintas dan menjadi bagian dari isi do’a yang disampaikan kepada Allah SWT waktu salat fardu dan salat malam (qiyamullail). Memohonlah kepada Alloh SWT agar memberikan kemudahan dan kejelasan atas ilmu yang disampaikan ke siswa. Juga semoga Allah SWT melimpahkan kebenaran di atas lisan dan hati Bapak dan Ibu guru. Serta dilancarkan ucapan sehingga siswa mudah memahami. Amin. Bila semua itu dilakukan oleh guru dengan ihklas dan profesional maka tidak mustahil para siswa mendabahkan kehadirannya. Alangkah senangnya bila guru itu keberadaannya dinantikan oleh para siswanya. Guru yang demikian menjadi idola di sekolah. Sapaan-sapaan, dan panggilan dari berbagai arah menyebut nama guru idola tersebut. Sampai para siswa sudah lulus pun terus silaturrahmi dan menjalin hubungan yang baik. Kenangan dan kebaikan guru idola selalu diingat dan menjadi memori yang tidak pernah terlupakan.

dion Written :

Mahmudiono, M.Pd. (Indonesian Teacher, mahmud72_bila@yahoo.com)

Guruku Pelitaku – Selamat Hari Guru

Kau bak matahari yang slalu menyinari bumi

Kau bak bulan yang tersenyum disetiap malam

Kau bak pelangi yang slalu mewarnai dunia

Kau membawa kami menuju lorong-lorong tak berujung

Dengan untaianmu kau menuntun kami

Tetaplah menjadi pelita kami, anak-anak bangsa

Cahyamu slalu ditunggu

Bukan untuk satu jiwa

Tapi untuk semua umat

“SELAMAT HARI  GURU”

Guruku Pelitaku

Bintangku Harapanku

Pelangi Pejuang Pendidikan

Mentari nan cerah desiran angin menerpa wajah
Menyibak embun pagi dengan penuh keikhlasan
Menabur benih tanpa rasa lelah
Waktu demi waktu terus berjalan
Goresan garis kau torehkan dengan tinta emas
Lafadz terindah kau ucapkan
Penuh warna dan keindahan
Dulunya dunia kami gelap dan hampa
Tak bisa apa-apa, tak tahu apa-apa
Kini, pelangi kehidupan penuh warna tlah terlihat
Bukan lagi mimpi
Terima kasih pejuang pendidikan, jasamu tiada tara
Pelita kehidupan bangsa
Hanya ucapkan dari bibir kami
Selamat Hari Pendidikan Nasional
Gempitakan dan satukan selalu jiwamu
Wahai pejuang pendidikan Indonesia
Kau adalah pejuang, pahlawan tanpa lencana

sandi  Written :

 Rahmiwati Sandi, SE
 (administration staff)

Pentingnya Mengenang Kartini

KartiniHari Kartini. Ada sebagai penghormatan atas wujud perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, emansipasi wanita. Kartini ada sebagai pahlawan, bukan dengan tindakan kekerasan, tapi tetap radikal, demi memperjuangkan kebenaran yang dipercayainya. Beberapa dekade setelah beliau meninggal, pergerakan wanita semakin terasa dan membawa dampak luar biasa. Saat ini, melihat kaum perempuan berada di posisi kepemimpinan bukanlah hal yang begitu tabu lagi, meskipun adat ketimuran yang bangsa ini punya juga tidak sepenuhnya punah, terutama budaya patriarki.

Hari Kartini, di berbagai daerah diperingati dengan cara menggunakan baju adat daerah-daerah yang ada di Indonesia. Entah kenapa juga, apakah ada relasi antara baju adat dan perjuangan R. A. Kartini itu sendiri. Setidaknya, momentum ini bisa membuat rasa nasionalisme kita ada dan bertumbuh, untuk menyegarkan semangat kita untuk membangun bangsa kita, dan terutama kota kita tercinta, dan tidak menyerah dengan keadaan yang serba sulit seperti saat ini.

Tidak kita pungkiri bila modernisasi membuat generasi muda  semakin jauh dari jiwa nasionlis. Kenbanggaan generasi muda terhadap negeri  semakin pudar. Negeri ini mulai dijauhi oleh penerus perjuangan para pahlawan. Bukankah para pahlawan berjuang negan  pengorbanan jiwa dan raga untuk mewariskan kemerdekaan ini untuk generasi muda? Bukti  bahwa generasi muda mulai terdegradasi rasa nasionalisnya adalah bahwa  mereka banyak tidak hafal lagu-lagu nasioanal tetapi dengan lalu pop dan sejenisnya sangat hafal. Tidak itu saja bila ditanya tentang pahlawan mereka tidak tahu.  “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan”. Seharusnya kita  sekarang dan sampai kapanpun menghargai mereka yang teleh mengorbankan jiwa dan raganya. Oleh karena itu di momentum peringatan  nasional kita tidak sekedar memperingati tetapi berupaya untuk menggugga dan memotivasi siswa dan generasi muda.  Untuk itu seharusnya di sekolah-sekolah dimeriakan peringatan hari Kartini dengan mode atau busana yang digunakan oleh para siswa dan bapak dan ibu.  Guru. Dengan cara inilah salah satu kita menghargai para pahlawan dan menanamkan kecintaan kepada Indonesia. Selamat hari Kartini semoga lahir jiwa-jiwa Kartini yang selalu mengharumkan bangsa di  ajang nasional maupun internasional. Semoga negeri ini selalu terang degan semangat semangatmu Kartini.

dion Written :
Mahmudiono, M.Pd.
(Indonesian Teacher)

Cara Memilih Sekolah Setelah SMP

Kemana yaaa???Setelah menyelesaikan sekoah menengah pertama (SMP), anda bercita-cita melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu sekolah menengah. Apakah anda merasa bingung untuk menentukan sekolah menengah yang akan anda masuki ? Untuk itu anda memerlukan informasi tentang lanjutan sekolah.

 

MA-SMA-SMKA. Mengenal Jenis Sekolah Menengah
Ada dua jenis sekolah menengah yang dapat dimasuki setelah sekolah menengah pertama (SMP), yaitu Sekolah Menengah Umum (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

1. Sekolah Menengah Umum (SMA).
Sekolah menengah merupakan salah satu jenis sekolah yang dapat dimasuki setelah SMP. Sekolah menengah umum mengutamakan persiapan siswa melanjutkan pendidikan pada jenjang pendidikan lebih tinggi.

Dalam rangka mempersiapkan siswa memasuki pemdidikan tinggi, pada sekolah menengah umum (SMA) diselenggarakan program pendidikan khusus. Ada tiga program pengajaran di SMA, yaitu Program Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Program Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Program Bahasa.

Masing-masing program bertujuan untuk mempersiapkan siswa memasuki perguruan tinggi yang berkaitan dengan ilmu-ilmu pada program tersebut. Program Pengetahuan Alam bertujuan untuk menyiapkan siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang tinggi yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Program Pengetahuan Sosial bertujuan untuk menyiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi yang berkaitan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Sementara itu, Program Bahasa bertujuan untuk menyiapkan siswa memasuki pendidikan tinggi yang berkaitan dengan ilmu bahasa.

Program khusus di SMA diselenggarakan pada Semester I Kelas XI. Dasar yang dipakai untuk penjurusan siswa adalah akademik selama 2 semester kelas X. Kecuali itu, dipertimbangkan juga minat dan bakat yang dimiliki serta atas persetujuan orang tua siswa.

2. Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ).
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan salah satu jenis sekolah menengah yang dapat dimasuki setelah SMP. Sekolah menengah kejuruan bertujuan untuk :
a. Menyiapkan siswa untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional.
b. Menyiapkan siswa agar mampu memilih karir.
c. Menyiapkan tenaga kerja tingkat menengah dan mengisi kebutuhan dunia usaha.

Siswa yang belajar di sekolah menengah kejuruan lebih banyak dibekali keterampilan untuk memasuki lapangan kerja.

Sekolah kejuruan mempunyai penekanan pada ilmu tertentu. Ada sekolah menengah kejuruan yang khusus mempelajari ilmu teknik, ada yang khusus memepelajari ilmu pertanian, ada yang khusus mempelajari ilmu yang berkaitan dengan kesejahteraan keluarga, ada yang khusus mempelajari ilmu yang berkaitan kelautan, ada yang khusus mempelajari ilmu yang berkaitan dengan farmasi, ada yang khusus mempelajari ilmu yang berkaitan dengan ekonomi/akuntansi, ada yang khusus mempelajari ilmu yang berkaitan dengan komputer dan masih banyak lagi yang semuanya bertujuan untuk mempersiapkan calon tenaga kerja siap pakai sesuai dengan bidang dan keahlian masing-masing yang dibutuhkan dunia usaha.

Contoh : Sekolah Analis Kimia, Sekolah farmasi, Sekolah Perikanan, sekolah perkapalan, Sekolah kelautan, Sekolah perawat Kesehatan (SPK), Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK), Sekolah Ekonomi/akuntasi, Sekolah Tata Boga dll.

B. Cara Mempersiapkan Diri Memasuki Sekolah Menengah

Anda tentu ingin berhasil dalam mengikuti pendidikan di sekolah menengah. Oleh karena itu, anda perlu mempersiapkan diri untuk memilih sekolah menengah. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah menengah antara lain sebagai berikut :

  1. Menentukan tujuan setelah lulus sekolah menengah. Jika setelah lulus pendidikan anda ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi maka sebaiknya anda memilih sekolah menengah umum (SMA). Sebaliknya, jika setelah lulus pendidikan menengah anda ingin langsung bekerja, sebaiknya anda memilih sekolah menengah kejuruan.
  2. Mempersiapkan diri sedini mungkin. Persiapan yang dimaksud disini berhubungan dengan prestasi akademik. Prestasi akademik selama anda belajar di sekolah menengah pertama dapat diketahui melalui nilai hasil Ujian Nasional maupun Ujian Sekolah yang tertera dalam STTB/SKHU. STTB/SKHU sangat mempengaruhi proses pemilihan sekolah lanjutan. Beberapa sekolah lanjutan menengah ada yang menggunakan standar nilai mata pelajaran tertentu sebagai syarat yang harus dipenuhi oleh calon siswa. Misalnya nilai mata pelajaran Matematika minimal 7. Atau mungkin ada sekolah yang mengharuskan calon siswa memiliki nilai rata-rata UN minimal 8 atau jumlah NUM 32 dan lain-lain.
  3. Pertimbangkan bakat yang anda miliki. Bakat yang dimiliki seseorang tidak sama antara satu dengan lainnya. Ada yang berbakat pada ilmu alam, tetapi tidak berbakat pada ilmu sosial, ada yang berbakat di bidang olahraga, tetaapi tidak berbakat di kesenian, ada yang berbakat dibidang kesenian tetapi tidak berbakat pada keterampilan. Bakat yang dimiliki seseorang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar. Seseorang yang mengikuti pendidikan di sekolah menengah jika didukung dengan bakat yang dimiliki, akan lebih berhasil dibanding yang tidak didukung dengan bakat. Contoh : Eva tidak berbakat di bidan seni, tetapi berbakat di bidang Sains. Ia memilih sekolah yang tidak sesuai dengan bakatnya atas pengaruh temannya, yaitu Sekolah Seni Rupa. Akibatnya, Eva mengalami kesulitan kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Apabila ada tugas menggambar, Eva tidak dapat mengerjakan.
    Kirana mempunyai bakat dalam bidang seni. Ia memilih sekolah sesuai dengan bakat yang dimilikinya, yaitu Sekolah Seni Rupa. Kirana selalu mengerjakan tugas-tugas dengan baik, terutama berhubungan dengan seni rupa.
  4. Pertimbangkan sifat-sifat yang anda miliki. Setiap orang memilki sifat yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang sabar, teliti, suka bekerja menghadapi benda, tabah, suka bekerja menghadapi orang, mampu menciptakan alat, dan lain-lain. Sifat-sifat orang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar seseorang. Oleh karena itu, untuk memilih sekolah, sebaiknya seseorang juga harus mempertimbangkan sifat-sifat yang dimiliki. Contoh : Bambang tidak memiliki sifat sabar dan lebih senang bekerja menghadapi benda. Bambang memilih Sekolah Perawat Kesehatan. Pada saat praktik di rumah sakit, bambang tidak bisa menghadapi pasien dengan sabar dan selalu marah. Akibatnya nilai praktik yang diperoleh tidak baik. Hengki mempunyai sifat teliti dan lebih suka bekerja menghadapi benda. Hengki memilih Sekolah Menengah Ekonomi. Pelajaran yang diberikan di Sekolah Menengah Ekonomi banyak yang membutuhkan sifat teliti, seperti hitung dagang, akuntansi dan ekonomi. Pada saat praktek tidak mengalami kesulitan.

Oleh karena itu, agar anda tidak mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah menengah sebaiknya dalam memilih sekolah menengah, sesuaikan dengan sifat-sifat yang anda miliki.

C. Rangkuman

  1. Sekolah Menengah Umum (SMA) adalah sekolah yang mempunyai tujuan mempersiapkan siswa    memasuki jenjang pendidikan tinggi.
  2. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah sekolah menengah yang mempunyai tujuan menyiapkan siswa memasuki lapangan kerja.
  3. Contoh : Sekolah Menengah Kejuruan antara lain SMK Rumpun Ekonomi/Bisnis (SMEA), Sekolah Kejuruan Rumpun Teknologi (STM), Sekolah Menengah Kesejahteraan Keluarga (SMKK), Sekolah Farmasi, Sekolah Menengah Kerawitan, Sekolah Menengah Perkebutan Atas (SPBMA), Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA), Sekolah Asisten Apoteker (SAA) dan Sekolah Analis Kimia.
  4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah menengah antara lain :
  • Tujuan setelah tamat pendidikan menengah.
  • Mempersiapkan diri sedini mungkin.
  • Mempertimbangkan bakat yang dimiliki.
  • Mempertimbangkan sifat-sifat yang dimiliki.
  • Mempertimbangkan kemampuan orang tua.

 

dion Written :
Mahmudiono, M.Pd.
(Indonesian Teacher)

Pendidikan Karakter ala Ki Hajar Dewantara Solusi Cerdas Atasi Masalah Bangsa

Ki Hajar DewantaraFenomena yang terjadi saat ini membuat kita orang tua mengelus dada. Betapa tidak, sesuatu yang selama ini dianggap layak untuk dilakukan malah semakin ditinggalkan. Hal yang patut untuk ditiru malah dianggap tabu. Kita sangat merindukan perilaku pada anak-anak seusia sekolah. Di mana mereka bisa bertutur kata pada orang tua, kasih sayang pada sesama, berpamitan pada orang tua sebelum sekolah. Pandai bergaul dan berkumpul. Itu sebagian kecil perilaku pada diri anak-anak yang memang mulai luntur dan lentur. Justru  sebaliknya kita sering menjumpai anak-anak tidak punya etika dan susila, melanggar norma dan tata krama, pudarnya sendi-sendi kemanusiaan serta kepribadian. Orang tua yang telah melahirkannya dianggap sebagai kawan, guru yang sepatutnya digugu dan ditiru dianggap teman sepermainan, mudah emosi, sulit mengontrol diri, tidak bisa menciptakan jati diri. Apapun model dan bentuk pelangggaran yang dilakukan oleh sebagian siswa tadi memberikan pencitraan yang jelas bagi kita yaitu pudarnya keteladanan.

Berkaitan dengan keteladanan tentu saja kita tidak dapat melupakan tokoh pendidikan yang setiap tanggal 2 Mei kita peringati sebagai sosok yang banyak memberikan inspirasi dan inovasi dalam dunia pendidikan. Dialah pahlawan sekaligus tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Mengenang Ki Hajar Dewantara coba kita ingat kembali prinsip beliau “Ing ngarso sung tulodho, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani”. Kita bisa mengartikan kurang lebih “Yang depan dijadikan contoh, yang tengah membangun kehendak yang belakang tinggal mengikuti”. Sangat sederhana memang tapi tidak semudah membalik telapak tangan.

Secara teoretis dan praktis tentu kita paham dengan dogma Ki Hajar Dewantara.tak salah memang jika slogan “Tutwuri Handayani” dipakai sebagai ikon Depdiknas karena stressing problem ada pada siswa. Realitas yang terjadi di masyarakat terkait dengan keteladanan bisa kita uraikan mulai dari pendidikan informal (keluarga), pendidikan formal (sekolah), pendidikan luar sekolah (masyarakat) dan wakil masyarakat (DPR/MPR) Berangkat dari paradigma Ki Hajar Dewantara mari kita tarik benang merah relevansi keteladanan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Pertama pendidikan informal (dalam keluarga), ranah ini merupakan jenjang pendidikan yang paling fundamental dan signifikan dalam membentuk keteladanan menuju National and Character Building. Sebagai orang tua harus mencerminkan figur bagi anak-anaknya. Dia harus menjadi anutan dan tuntunan. Jangan hanya menjadi aduan  dan tontonan. Barangkali sebagai contoh konkret diawali dari kelahiran anak, seorang ayah harus mampu mengadzani/memperdengarkan kalimat-kalimat toyibah, ibaratnya ayah sebagai pengisi pita suara/kaset. Ia harus mengisi pita kosong dengan  suara bagus dan benar agar kaset yang tercetak terekam kuat kelak dalam memori anaknya. Kita juga pernah mendengar teori tabularasa. Anak ibarat meja mlilin putih orang tuanya yang akan menulisi meja  Memasuki masa kanak-kanak lagi-lagi peran orang tua menempati porsi utama bagaimana ia berbahasa, bertingkah dan bertutur kata akan ditiru oleh buah hatinya. Dari sinilah pelajaran unggah-unggah mutlak diperlukan. Ironisnya orang tua justru tidak bisa dijadikan contoh tetapi hanya mampu memberi contoh. Akibatnya kontradiktif lama-kelamaan pribadi anak menjadi rapuh. (Wuryanti, 2005:312-317 dalam Yuwana) menyatakan, pada masa lampau jumlah tingkat tutur yang digunakan masyarakat Jawa sangat banyak, yaitu: tingkatan ngoko dengan variasinya, madya dengan variasinya, dan krama dengan variasinya, jika untuk kepentingan berkomunikasi secara umum. Melihat penjelasan tersebut seorang ayah harus mampu memosisikan sebagai sosok yang bertutur kata secara santun. Kalau perlu ketika berkomunikasi tidak menggunakan bahasa kasar tujuannya agar kelak tidak ditiru si anak. Lebih lanjut  Kiliaan (1919), Prijohoetomo (1937:31-35), dan Kementerian Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan 1946:86-87 dalam Yuwana) merinci tingkat tutur bahasa Jawa menjadi ngoko lugu, ngoko andhap, madya, krama, basa kasar, dan basa kedhaton. Tingkat tutur ngoko andhap dirinci lagi menjadi antyabasa dan basa antya. Tingkat tutur madya dirinci menjadi madya ngoko, madyantara, madya krama, krama ndesa, krama inggil. Berdasarkan uraian tersebut menunjukkan bahwa tingkat tutur bahasa Jawa memang amatlah rumit. Masing-masing jenis memiliki aturan pemakaian. Namun apabila kita terbiasa menggunakannya dalam lingkup keluarga maka paling tidak kita bisa membangun pembiasaan keteladanan berawal dari pendidikan keluarga.

Kedua pendidikan formal (sekolah), kita juga tidak dapat memungkiri bahwa jumlah jam pelajaran untuk bahasa Jawa sebagai Mulok utama hanya 2 jp di tiap-tiap sekolah sangat minim selain itu bahasa jawa dianggap bahasa pinggiran dan kampungan menyebabkan anak malas menggunakannya. Bahkan mayoritas anak zaman sekarang yang hanya pandai berbahasa Jawa namun tak pandai berbahasa Indonesia atau Inggris ia dianggap kampungan, kurang pergaulan,  dan cenderung termarginalkan. Kita bisa menghitung dengan jari berapa anak usia sekolah yang mampu menggunakan bahasa krama inggil kepada gurunya.  Apabila anak berkomunikasi pada sesama lazimnya menggunakan tingkat tutur jenis ngoko. Sedangkan untuk penghormatan, yang digunakan adalah tingkat tutur krama. Tingkat tutur ngoko bisa juga digunakan untuk penghormatan mitra tutur namun dalam kapasitas sedikit atau tidak sangat menghormat. Untuk mengenali lebih dalam berikut merupakan ciri-ciri masing-masing tingkat tutur. Untuk tipe yang biasa atau tanpa penghormatan, tingkat tutur ngoko memiliki ciri seluruh rangkaian kalimat menggunakan kosa kata ngoko. Jenis ini disebut ngoko lugu. Apabila untuk sedikit menghormat, cirinya adalah bahwa tidak seluruh rangkaian kalimat ngoko karena dicampur dengan kosa kata krama/karma inggil pada bagian kata ganti dan kata kerja yang menunjuk orang yang dihormati. Melihat penjelasan ini minimal anak menggunakan bahasa krama/krama inggil pada gurunya karena guru merupakan orang yang harus dimuliakan tetapi kenyataannya sangat jarang siswa berbahasa krama/krama inggil. Pemakaian kata ini sebagai wujud penghormatan dengan cara merendahkan kedudukan penutur dari mitra tutur. Setali tiga uang guru tak jarang juga kurang bisa dijadikan teladan apalagi siswa seusia SMP/SMU malah dianggap teman curhatnya. Guru kurang pandai menjaga jarak.  Kita bisa melihat ada siswa berani pada gurunya, oknum guru menempeleng siswanya, bahkan naudzubillah min dzaalik tsumma ada guru bertindak asusila dengan muridnya. Semua catatan tadi berakar pada keteladanan yang berakibat merosotnya harkat, derajat, dan martabat  serang guru.

Ketiga masyarakat,  kita menyadari bahwa selain sebagai makhluk pribadi kita juga sebagai makhluk sosial. Artinya suatu saat anak akan berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat yang mana ? Yang mana saja karena hakikatnya masyarakat adalah kumpulan orang-orang yang tinggal di suatu wilayah membentuk ekosistem, berprinsip take and give, saling toleransi dan mengisi. Ironisnya apa yang disaksikan oleh anak-anak terkadang menimbulkan kecemburuan yang tinggi dipacu faktor kesenjangan. Sebagai ilustrasi awal kita sering melihat berita via media massa dan cetak di daerah-daerah tertentu terjadi tawuran massal antara warga lokal dengan warga pendatang (perumahan). Hal ini dipicu oleh hal yang sangat sepele, yaitu keteladanan. Secara deskriptif kita kita berargumen mereka yang tinggal di perumahan elit umumnya kelas menengah ke atas. Jarang bersosialisasi dan berkomunikasi dengan warga sekitar. Yang nampak hanya kompetisi dan kompetisi akibatnya kecemburuan dan tawuran. Andaikata saja mereka yang mayoritas masyarakat pendidikan kelas menengah ke atas mau serta mampu berinteraksi dengan warga sekitar tentu saja akan terbentuk masyarakat madani yang insani berlandaskan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945. Di antara pendidikan karakter bangsa kita bisa melihat karakter peduli lingkungan dan peduli sosial ini yang harus kita tanamkan sejak dini pada diri anak-anak kita. Perbedaan yang membawa persatuan dan kesatuan dan tentu saja semuanya tadi bermuara dari keteladan.

Keempat wakil masyarakat (DPR/MPR), teringat lagu Iwan Fals … wakil rakyat seharusnya merakyat, wakil rakyat bukan paduan suara… Sepenggal lagu di era 1970-an sangat melegenda di benak kita. Sebagai wakil rakyat seharusnya ia mampu menjadi teladan masyarakat. Karena hakikatnya ia adalah abdi yang membawa aspirasi masyarakat untuk mencari jalan keluarnya, mencari  win-win solusion agar rakyat Indonesia semakin lama semakin baik, semakin bermartabat, dan semakin cerdas menuju masyarakat yang adil berkemakmuran dan makmur berkeadilan. Namun karena  ia tidak bisa dijadikan teladan justru menjadi bahan cemoohan. Kita teringat kasus oknum wartawan membuka web porno saat rapat, kasus perselingkuhan, sampai pada malasnya anggota dewan untuk sekadar mengisi daftar hadir pada rapat-rapat paripurna. Fenomena tersebut hampir tiap hari kita saksikan. Pertanyaannya di mana hati nurani mereka, mana  janji mereka sewaktu berkampanye dulu? Lagu merdu yang mampu meninabobokkan rakyat yang malah menjadi bumerang bagi dirinya. Akibatnya jelas ia sudah tidak punya rasa malu dan ini merupakan indikasi bahwa ia sudah tidak mampu untuk dijadikan teladan bagi rakyat.

Prinsip keteladanan memang harga mati bagi anak-anak terutama anak seusia sekolah. Ia tidak mempunyai nalar yang luas untuk menerjemahkan sesuatu yang diterimanya. Yang menjadi barometer hanyalah keteladanan. Manakala anak kurang puas dengan idolanya karena secara kebetulan kurang sesuai dengan pola pikirnya, anak akan lebih mudah menjustise bahwa ia sosok yang kurang pas untuk dijadikan contoh. Jawaban dari permasalahan tersebut jelas anak akan mencari pelampiasan dengan mencari kesibukan yang tak jarang bertentangan dengan nilai-nila moral dan agama. Contoh anak-anak lebih lama dalam bermain game online, ataupun membuka situs yang kurang layak dikonsumsinya daripada harus membuka web yang bertema pendidikan. Lama-kelamaan menjadi ketagihan dan akhirnya menjadi kronis. Peran orang tua dalam mendamping dan mengajarkan keteladanan mutlak diperlukan di sini. Fakta juga membuktikan anak yang mengalami broken home, sebagian besar dipicu oleh kurangnya perhatian dan keteladanan dari orang tua.

Berdasarkan penjelasan tersebut kita bisa menarik kesimpulan bahwa keteladan mutlak diperlukan di segala lapisan masyarakat mulai dari rakyat jelata sampai pejabat, mulai dari tingkat kanak-kanak sampai mahasiswa. Keteladanan jawaban yang tidak terbantahkan. Solusi dalam menumbuhkembangkan keteladanan di segala lapisan adalah sebagai berikut : 1) Sebagai orang tua, guru maupun tokoh masyarakat, kita harus siap dijadikan contoh jangan hanya pandai memberi contoh 2) Tanamkan perilaku  positif sejak dini pada diri anak walaupun sepele, 3) Pelajaran dan pendidikan unggah-unggah wajib diajarkan pada anak-anak kita agar mereka pandai memilah dan memilih, 4) Tanamkan kebersamaan dalam masyarakat hapus kesenjangan di segala lapisan, dan 5) Isi waktu luang dengan hal positif. Paling tidak uraian singkat di atas mampu memberikan jawaban terhadap permasalahan yang saat ini sering kita saksikan, yaitu keteladanan.

dion  Written :
Mahmudiono, M.Pd.
(Indonesian Teacher)

Spektakuler Ujian Nasional 2014

UN 2014Selama ini, ujian nasional banyak dijadikan moment yang sangat menakutkan, perlu  persiapan yang sangat luar biasa. Bahkan ibarat menghadapi sebuah pertempuran, para  siswa melakukan latihan keras dengan dengan penuh kedisiplinan agar siap dalam  menghadapinya. Sebenarnya hal itu akan membuat siswa semakin grogi dan  penuh  tekanan dalam menghadapi ujian nasional. Peran guru dan orang tua sangat mendukung  akan keberhasilan siswa dan anak didiknya. Semakin banyak hal yang perlu dipersiapkan  baik secara akademik, fisik, mental, strategis, dan teknik-teknik apa akan menjamin lulus dengan hasil memuaskan?

Bagi siswa-siswa yang tinggal beberapa minggu lagi akan menempuh ujian nasional, tak usah berkecil hati ataupu nervous, meskipun menggunakan sistem 20 paket soal. Mari kita jadikan Ujian Nasional sebagai sebuah momen spektakuler bagi kalian!!! Yaitu sebuah moment atau pesta bagi para peserta didik di akhir tahun pelajaran, layaknya sebuah momen penutupan akhir tahun (tahun baru) ataupun momen idul fitri atau momen yang lainnya. Enjoy saja yaaaaa… Keep Spirit!!! Never give up!!! Kita pasti bisa!!!

Ada beberapa Tips Menghadapi Ujian Nasional 2013 untuk para siswa cerdas yang ingin mempersiapkan diri dari sekarang agar LULUS UN 2014 :
1.    Persiapan Akademik
  • Mempelajari kisi-kisi soal UN
  • Mempelajari soal-soal UN tahun sebelumnya
  • Latihan menerjakan soal-soal berkaitan dengan kisi-kisi soal yang ada
  • Mengikuti benchmark (tryout) penguasaan materi
  • Ikut Bimbingan Belajar (baik di sekolah, lembaga bimbingan belajar, maupun secara privat)
2.    Persiapan Fisik
  • Olahraga teratur
  • Konsumsi makanan dan minuman yang sehat
  • Istirahat atau tidur yang cukup
3.    Persiapan Mental
  • Percayalah pada kemampuan diri sendiri bahwa kita bisa
  • Biasakan mengerjakan banyak soal dalam waktu singkat
  • Tenang dalam mengerjakan soal
  • Baca soal dengan seksama
  • Berdoa kepada Allah SWT dan berusaha
4.    Persiapan Strategi
  • Strategi penguasaan materi yang akan diujikan
  • Strategi pengerjaan soal
  • Strategi manajemen waktu
  • Strategi memilih jawaban soal pilihan berganda
  • Strategi lainnya
5.    Persiapan Teknik
  • Teknik membaca & menghafal cepat
  • Teknik pengerjaan dengan benar dan singkat
  • Teknik manajemen waktu yang baik
  • Teknik pengisian lembar jawab yang tepat, aman dan benar
Selain persiapan di atas, agar kita SUKSES Menghadapi Ujian Nasional 2014, beberapa hal lainnya yang perlu dilakukan pada saat Ujian, antara lain:
  • Datang lebih awal
  • Duduk sesuai dengan nomor kursi yang disediakan
  • Letakkan alat tulis di meja, seperti (pensil 2B, penghapus, dan lainnya)
  • Tenang dan yakin dengan kemampuan diri sendiri.
  • Awali menjawab soal dengan berdoa kepada Allah SWT
  • Lihat sekilas semua soal-soal ujian terlebih dulu dengan cepat.
  • Luangkan sekitar 10% dari keseluruhan waktu ujian untuk membaca soal-soal ujian secara mendalam, tandai kata kata kunci dan kemudian jawab seluruh soal.
  • Mulai dengan menjawab pertanyaan yang mudah, kemudian dengan soal-soal yang sulit.
  • Gunakan sekitar 10% waktu ujian untuk memeriksa ulang jawaban.
  • Setelah selesai, berdoa dan serahkan kepada Allah SWT yang Maha Berkehendak. (Sumber : berbagai media edukasi)
sandi Written :
 Rahmiwati Sandi, SE
 (administration staff)